KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Tinjauan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di wilayah kerja Puskesmas

Minggu, 22 Juli 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Berlatar belakang dari dinamika jaman yang kian berkembang, tentunya hal ini perlu disikapi secara seksama dan berkelanjutan, yang mana pada dasarnya kesehatan berjalan berdampingan dengan segala bentuk perubahan yang ada dalam berbagai strata kehidupan. Berawal dari perubahan tentunya diikuti juga dengan berbagai hal baru yang muncul yang berkemungkinan dapat membawa pengaruh positif maupun negatif lintas sektoral khususnya dalam bidang kesehatan, dalam artian hal tersebut perlu adanya keseimbangan yang berkesinambungan yang dapat mengbatasi dampak negatif yang terjadi terhadap bidang kesehatan.
Sehat merupakan keinginan semua orang, baik itu perorangan, keluarga, maupun masyarakat. Sehat adalah: keadaan sejahtera baik fisik, mental, dan sosial dan tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau cacat menurut World Health Organization (WHO). Sebagaimana tertera dalam Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak memperoleh derajat kesehatan. Untuk mewujudkan keadaan sehat tersebut, maka perlu diselenggarakan sarana pelayanan kesehatan, salah satu sarana pelayanan kesehatan adalah rumah sakit.
Pengertian rumah sakit adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat di manfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian (Permenkes No.159b/Men.Kes/Per/II/1998).
Rekam medis di rumah sakit memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan suatu pelayanan kesehatan terhadap pasien di rumah sakit. Karena unit rekam medis merupakan unit yang memanagerisasi pelayanan pasien beserta data data medis yang berkaitan dengan pasien.
Unit rekam medis mempunyai kegiatan yang sangat beragam tidak terpaku hanya dengan kegiatan pencatatan saja, tetapi rekam medis juga merupakan sumber data dan informasi dari awal pasien masuk, diberi tindakan, sampai pasien pulang, semua dicatat dalam berkas rekam medis. Data yang dicatat dalam rekam medis tersebut, diolah untuk dijadikan sebagai informasi atau laporan baik bagi pihak intern maupun ekstern.
Selain sebagai sumber data dan informasi rekam medis juga mempunyai peranan diantaranya melayani pelayanan dengan menggunakan asuransi (klaim asuransi)
Berdasarkan observasi pendahuluan penulis, di Rumkit Mata terkait klaim asuransi yaitu masih adanya hambatan yang dapat mengurangi kelancaran proses pelayanan guna menciptakan kualitas pelayanan yang sesuai dengan apa yanmg diharapkan
Bertitik tolak dari hal tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul:
TINJAUAN TERHADAP KLAIM ASURANSI GUNA MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN DI RUMAH SAKIT MATA

2. Perumusan Masalah
Dari permasalahan yang telah di uraikan pada bagian latar belakang, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Seperti apakah Gambaran detail dari pelayanan program asuransi yang diterapkan di Rumah Sakit Mata ?
2. Bagaimanakah prosedur yang telah diterapkan terkait pelayanan program/ penyelesaian klaim asuransi di Rumah Sakit Mata ?
3. Hambatan apasajakah yang kerap menjadi venomena/ masalah dalam upaya pemberian pelayanan klaim asuransi agar berjalan dengan mestinya sesuai apa yang diharapkan di Rumah Sakit Mata ?
4. Upaya yang seperti apakah/bagaimanakah yang dapat diterapkan guna memperlancar dan meminimaliskan segala bentuk hambatan yang terjadi pada saat penyelesaian klaim asuransi di Rumah Sakit Mata ?

3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian terdiri dari:
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran umum tentang klaim asuransi guna menunjang meningkatkan mutu pelayanan di Rumkit Mata
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi prosedur klaim asuransi di Rumkit Mata
b. Mengidentifikasi pelaksanaan klaim asuransi di Rumkit Mata
c. Mengidentifikasi adanya faktor penyebab/ hambatan terkait proses klaim asuransi di Rumkit Mata
d. Mengidentifikasi upaya untuk menangani hambatan yang terjadi pada saat penyelesaian klaim asuransi.

4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
a. Untuk membina hubungan baik antara pihak rumah sakit dengan akademik.
b. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit khususnya pada bagian rekam medis.
2. Bagi Akademik
a) Tambahan daftar pustaka sebagai referensi.
b) Sebagai salah satu pertimbangan dalam pemberian materi pembelajaran yang lebih mengarah kepada keadaan di unit rekam medis.
3. Bagi Penulis
a) Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai ilmu rekam medis.
b) Dapat menerapkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan kenyataan dilapangan.
c) Berkontribusi memberikan pengetahuan/ informasi tentang segala bentuk informasi yang didapat terkait penerapan asuransi dan penyelesaian klaim asuransi di Rumah Sakit Mata

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.269

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI


Tinjauan Terhadap Kelengkapan Tanda Tangan Dokter Terkait Penyelesaian Klaim Asuransi Kesehatan Guna Meningkatkan Mutu Pelayanan di RS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Lebih dari 100 juta wanita di dunia memakai metode AKDR yang memiliki efektifitas lebih dari 99% dalam mencegah kehamilan, namun di Indonesia metode ini kurang diminati karena hanya digunakan oleh sekitar 10,9% akseptor saja ( BKKBN PUSAT, 2003 ).
Bila dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia masih menempati peringkat kelima paling rendah setelah Brunei (2,5). Sementara yang terendah berturut-turut Singapura (4.1), thailand (1,7) dan Vietnam (1,9) yang tertinggi adalah Laos dengan TFR 4,7 ( BKKBN PUSAT, 2005 ).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 pengendalian jumlah penduduk terus diupayakan pemerintah Indonesia dengan menggalakkan program Keluarga Berencana Nasional, sehingga jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang ikut KB mengalami peningkatan dari 60,3 % pada tahun 2006 menjadi 61,4% pada tahun 2007.
Program keluarga Berencana Nasional mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk. Kontribusi Program Keluarga Berencana tersebut dapat dilihat pada pelaksanaan Program Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010 adalah bahwa setiap kehamilan harus merupakan kehamilan yang diinginkan ( Saifudin, 2006 ).
Keluarga Berencana adalah Suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas (Sarwono,1994). Tujuan Keluarga Berencana adalah 1) Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan Ibu, anak, keluarga dan bangsa, 2) Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa (Mukhtar, 1998).
Pada umumnya pilihan kontrasepsi di Indonesia cenderung mengarah kepada penggunaan kontrasepsi hormonal. Berdasarkan laporan rutin BKKBN tahun 2003, 91,9% peserta KB baru memilih kontrasepsi suntikan, pil, dan implant, Sedangkan jumlah peserta KB aktif yang memilih kontrasepsi hormonal adalah 79%. Dari hasil SDKI 2002/2003 wanita menikah yang menggunakan kontrasepsi hormonal adalah 45,3% dari seluruh wanita menikah, sedangkan yang tidak menggunakan hormonal 15% . Ini berarti dari seluruh wanita menikah yang sedang menggunakan kontrasepsi 75,1% diantaranya menggunakan kontrasepsi hormonal.
Di Provinsi Riau pengguna AKDR mengalami penurunan dari 10,9% pada tahun 2002-2003 menjadi 5,4% pada tahun 2006. Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kotamadya tahun 2011 jumlah peserta KB Aktif yaitu sebanyak 24.602. Jumlah yang menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu Implant 65,24%, AKDR sebanyak 45,77% dan Kontap 2,31%. Dari 21 Puskesmas yang ada di Kotamadya pemakaian AKDR tertinggi berjumlah 2,26% dan terendah berjumlah 0,24% yaitu di Puskesmas Kecamatan .
Berdasarkan laporan rekapitulasi program KB Puskesmas Kecamatan tahun 2010 jumlah Akseptor KB Aktif berjumlah 1205 dengan jumlah akseptor suntik 60%, Pil 37,5%, Implan 0,9%, Kondom 0,3% dan AKDR 0,2%. Dari 91 Akseptor KB Aktif di Puskesmas Kecamatan tidak ada satupun Akseptor KB yang memilih AKDR sebagai alat kontrasepsi.
AKDR merupakan salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), selain Implant dan Kontrasepsi Mantap. AKDR Kontrasepsi yang memiliki efektifitas yang tinggi, reversibel dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun: CuT-380A) mencegah kehamilan (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan). AKDR sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat kapan kontrol, tidak mempengaruhi hubungan seksual dan tidak ada efek samping hormonal. Adapun efek samping yang timbul adalah nyeri, perdarahan dan keputihan (Saifudin,2006).
AKDR dapat digunakan pada Ibu dalam segala kemungkinan keadaan misalnya: Perokok, pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi, sedang memakai antibiotika atau anti kejang, gemuk ataupun kurus, Ibu yang menyusui karena tidak mempengaruhi kualitas dan volumu ASI ( Manuaba,1998 ).
Maka perlu dilakukan upaya untuk lebih mempopulerkan kembali kontrasepsi yang “cost effektif” salah satu jenis kontrasepsi tersebut adalah AKDR (BKKBN PUSAT, 2004)
Tingkat pendidikan juga mempengaruhi pengetahuan seseorang karna semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka cara untuk mendapat informasi yang lebih banyak tentang alat kontrasepsi dalam rahim , ini sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu mempengaruhi pengetahuan ibu mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim. Sebesar 45% wanita yang tidak sekolah menggunakan cara kontrasepsi modern, sedangkan wanita berpendidikan menengah atau lebih tinggi yang menggunakan cara kontrasepsi modern sebanyak 58%. Jadi, secara umum semakin tinggi tingkat pendidikan wanita, semakin besar kemungkinannya memakai alat/cara KB modern. Persentase pemakaian Alat Kontrasepsi Dalam Rahim berdasarkan tingkat pendidikan menurut SDKI 2002-2003 adalah yang tidak bersekolah 5,8%; tidak tamat SD 5%; tamat SD 4,1%; tidak tamat SLTP 5,1%; SLTP+ 11,6%. Berdasarkan SDKI 2002 – 2003 menurut tingkat pendidikan pengguna AKDR yang terbanyak adalah tingkat pendidikan yang lebih tinggi (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/kedokteran).
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan dasar semua tindakan dan usaha (Arikunto, 2002).
Pengetahuan ibu akseptor KB mempengaruhi perilakunya dalam pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) sebagai alat kontrasepsi karena ibu dengan pengetahuan tinggi tentu mempunyai perilaku yang berbeda dengan yang berpendidikan rendah karena ibu yang berpendidikan tinggi lebih memilih AKDR sebagai alat kontrasepsinya (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/kedokteran).
Melihat uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Tinjauan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tahun ”.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Kelurahan Kerumutan Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Tahun ?”.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Puskesmas .
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Tingkat Pendidikan Akseptor KB terhadap pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Puskesmas Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan .
2. Untuk mengetahui Pengetahuan Akseptor KB terhadap pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Puskesmas Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan .

1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan, terutama tentang metode penelitian.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan ilmu kebidanan.
1.4.3. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai informasi tentang Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

1.5. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini membahas Tinjauan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Akseptor KB Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Puskesmas Wilayah Kerja Puskesmas Kotamadya .

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.270

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Pengetahuan Ibu Tentang Diare dengan Kejadian Diare pada Balita yang dirawat di RS


BAB.I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tingkat pengetahuan / pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, hal ini disebabkan karena pengetahuan dan pendidikan yang rendah, di masyarakat mengakibatkan banyak sikap dan perilaku yang mendorong timbulnya penyakit infeksi dan penyakit-gizi (Sunoto,1996).
Diare merupakan salah penyakit infeksi utama yang menyerang anak balita di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian di beberapa negara berkembang. Di Indonesia angka kesakitan akibat diare berkisar antara 120-360 per 1000 penduduk dan untuk belita penderita satu atau dua kali episode setiap tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare dari 12% dari semua kematian pada semua golongan umur disebabkan oleh diare atau 84,4 per 100.000 penduduk sebagaian besar kematian (76%) terjadi pada anak balita, proporsi penyebab kematian karena diare pada bayi, anak balita atau balita masing-masing adalah 15,5%, 26,4% atau 19,1% (Sunoto,1990).
Untuk RS.”X” terutama ruang angka kejadian diare masih tinggi yaitu pada tahun 1999 jumlah pasien diare sebanyak 712 penderita dan menempati urutan ke-7 dari 10 penyebab kematian terbanyak sedangkan pada tahun 2001 jumlah pasien diare meningkat menjadi penderita, yang menempatkan diare (gastrointestinal) sebagai urutan ke-1 (pertama) dan 10 penyebab kematian terbanyak pada anak yang dirawat di ruang anak RS.
Salah satu faktor yang ditengarai berkontribusi terhadap tinggginya kejadian diare dengan berbagai tingkatan/gradasinya adalah belum optimalnya pengetahuan tentang diare, sehingga banyak kasus diare yang terjadi. Sebenarnya disebabkan karena kurang memadainya pengetahuan orang tua (ibu) balita. Tentang tindakan-tindakan, apa saja yang menurunkan insiden diare, sehingga diharapkan dengan pengetahuan tersebut ibu dapat mengambil keputusan untuk meminimalisir resiko-resiko atau hal-hal yang menyebabkan diare.
Bertolak dari dasar berpikir tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat topik hubungan pengetahuan ibu tentang diare dengan keadaan diare pada balita, sebagai bahan/masalah penelitian.

B. Masalah Penelitian
Berdasarakan latar belakang masalah tersebut diatas maka rumusan penelitian yang akan diteliti adalah : Apakah ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang diare dengan kejadian diare pada balita yang dirawat di RS “X”.

C. Hipotesis
H I : Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada balita yang dirawat di RS “X”.
Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada balita yang dirawat di RS “X”

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang diare dengan kejadian diare pada balita yang dirawat.
2. Tujuan khusus
b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu yang balitanya menderita diare dan dirawat meliputi : pengetahuan diare, tanda dan gejala diare, cara penularan dan pencegahan, perawatan diare, pengobatan diare dan komplikasi diare
c. Mengidentifikasi tingkat keparahan / gradasi pada balita yang menderita diare dan dirawat di RS “X” meliputi diare dehidrasi ringan, sedang, diare dehidrasi berat.
d. Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada alita yang dirawat di RS “X”.

E. Manfaat Penelitian
1. Untuk pihak rumah sakit
a. Sebagai bahan masukan mengenai gambaran pengetahuan ibu yang mempunyai balita dirawat di rumah sakit.
b. Dapat lebih profesional dalam memberikan pelayanan kepada klien/ibu yang mempunyai balia yang dirawat di RS “X” khususnya dengan masalah diare dan Penyakit lain pada umumnya.
c. Dapat lebih efektif dalam memberikan prevensi berupa penyuluhan kesehatan (HE) untuk meningkatkan pengetahuan bagi ibu yang anaknya menderita diare khususnya dan secara umum bagi ibu yang mempunyai balita dalam lingkup yang dapat dijangkau oleh institusi.
2. Untuk keluarga khususnya ibu balita
a. Sebagai bahan masukan mengenai arti pentingnya pengetahuan ibu tentang diare dalam rangka meminimalkan mencegah terjadinya diare.
b. Sebagai antisipasi awal agar anak yang menderita diare tidak berlanjut ke tingkatan yang lebih buruk / parah.
3. Untuk masyarakat / peneliti selanjutnya
a. Sebagai bahan penelitian pendahuluan / pembanding bagi peneliti yang melakukan riset dengan topik / tema yang sama.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.268

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Konsumsi Energi dan Status Gizi Balita di Desa


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sumber Daya Manusia yang baik dan berkualitas sangat diperlukan dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Kualitas Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor utama yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional. Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia tersebut maka harus dilakukan upaya-upaya yang saling berkesinambungan. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia, faktor kesehatan dan gizi memegang peranan penting, karena orang tidak akan dapat mengembangkan kapasitasnya secara maksimal apabila yang bersangkutan tidak memiliki status kesehatan dan gizi yang optimal ( Depkes,2001:1 )
Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia baik fisik maupun non fisik harus dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung terus menerus selama hidup. Salah satu upaya yang harus dilaksanakan adalah perbaikan, peningkatan gizi dan kesehatan.
Upaya peningkatan gizi yang tepat dilakukan pada masa anak-anak.
Seorang anak yang sehat dan normal akan tumbuh akan sesuai dengan potensi ganetik yang dimilikinya. Tetapi pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi oleh intake zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan. Kekurangan atau kelebihan akan dimanifestasikan dalam bentuk pertubuhan yang menyimpang dari pola standart.
Gizi merupakan salah satu komponen dari lingkungan yang memegang peranan penting dalam kesehatan dan tumbuh kembang anak. Apabila gizi menurun maka kesehatan anak akan menurun, sedangkan angka mortalitas dan morbilitas akan meningkat (Achmad Djaeni Sediaoetama, 1999:76)
Secara nasional ada empat masalah gizi utama di Indonesia yaitu: 1) Kurang kalori dan protein, (2) Kekurangan vitamin A, (3) Kekurangan garam besi dan anemia gizi, dan (4) gondok endemik (gangguan akibat kekurangan yodium).
Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, anak balita termasuk golongan masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi, sedangkan pada saat ini mereka sedang mengalami proses pertumbuhan yang relatif pesat, dan memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang relatif besar. Khususnya untuk masa balita merupakan masa perkembangan (nonfisik) dimana sedang dibina untuk mandiri, berperilaku menyesuaikan dengan lingkungan, peningkatan berbagai kemampuan, dan berbagai perkembangan lain yang membutuhkan fisik yang sehat. Maka kesehatan yang baik ditunjang oleh keadaan gizi yang baik, merupakan hal yang utama untuk tumbuh kembang yang optimal bagi seorang anak. Kondisi ini hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan dan pembiasaan serta penyediaan kebutuhan yang sesuai khususnya melalui makanan sehari-hari bagi seorang anak ( Anies dan Soegeng Santoso, 1999:88)
Maka dari itu pengaruh orang tua sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak secara normal. Untuk mendapatkan anak yang tumbuh dengan normal juga tidak lepas dari tingkat pengetahuan ibu terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Setelah bayi lahir sampai usia lima tahun merupakan masa dimana seorang anak akan tumbuh dan berkembang secara pesat. Pengetahuan ibu dalam mengatur konsumsi makanan dengan pola menu seimbang sangat diperlukan pada masa tumbuh kembang balita. Pengetahuan gizi ibu ini dapat diperoleh melalui pendidikan baik formal maupun nonformal. Pengetahuan gizi nonformal diperoleh melalui berbagai media. Penyuluhan tentang kesehatan dan gizi diposyandu merupakan salah satunya selain pengetahuan gizi yang didapat lewat media masa (koran, majalah dll) dan media elektronik (televisi, radio).
Pengetahuan gizi ibu disini dimaksudkan agar seorang ibu itu dapat menyusun, membuat makanan yang dikonsumsi oleh balita itu bervariasi atau beraneka ragam. Keaneka ragaman bahan makanan itu bertujuan supaya sesuai kebutuhan zat gizi seorang balita dapat terpenuhi dalam satu menu makanan.
Konsumsi zat gizi yang diperlukan balita adalah zat gizi sebagai sumber tenaga atau energi (karbohidrat), sumber zat pembangun (protein), sumber zat pengatur (vitamin). Ketiga sumber zat gizi itu sangat diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. Namun perlu diketahui porsi atau ukuran dari masing-masing sumber zat gizi itu harus sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang dan AKG (Angka Kecukupan Gizi) pada balita.
Keseimbangan konsumsi zat gizi akan membantu pertumbuhan anak yang baik Pertumbuhan yang baik biasanya juga disertai dengan status gizi anak yang baik. Status gizi dapat diketahui dengan cara pengukuran berat badan dan tinggi badan yang sesuai dengan baku WHO-NCHS.
Berdasarkan fakta yang ada di masyarakat sekarang ini masalah gizi kembali terjadi di Indonesia. Salah satu masalah gizi yang terjadi adalah Kurang Energi Protein (KEP) atau balita gizi buruk. Menurut data yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten tahun 2004 jumlah penduduk di Kabupaten adalah 1.195.632 jiwa. Jumlah balita di Kabupaten adalah 97.966 jiwa yang terdiri dari 50.273 balita berjenis kelamin laki-laki dan 47.693 balita berjenis perempuan. Kabupaten terdiri dari 21 satu Kecamatan, Kecamatan I merupakan bagian dari wilayah Kabupaten yang terdiri dari 9 desa. Jumlah pendudukan di Kecamatan I pada tahun 2004 adalah 30.941 jiwa. Jumlah balita di Kecamatan I adalah 1.137 yang terdiri dari 532 balita laki-laki dan 605 balita perempuan. Berdasarkan data sekunder yang ada di Puskesmas I 2005 terdapat 40 kasus balita gizi buruk. Desa merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan dengan jumlah penduduk 248 jiwa dan jumlah balita yang ada sebanyak 77 jiwa. Penderita gizi buruk di desa ada 7 anak. Data terakhir dari Puskesmas I pada bulan Juli 2005 jumlah balita gizi buruk di desa menjadi 6 anak karena salah satunya telah meninggal.
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka penelitian ini akan mencoba untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan gizi ibu, tingkat konsumsi energi serta status gizi balita yang ada di desa . Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul”Hubungan Antara Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat Konsumsi Energi Dan Status Gizi Balita di Desa Kecamatan Kabupaten Tahun”.

B. Perumusan Masalah
Setelah mengamati dan memahami urutan diatas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan tingkat konsumsi energi balita ?
2. Apakah ada hubungan antara tingkat konsumsi energi balita dan status gizi balita?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan tingkat konsumsi energi balita.
2. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi energi balita dan status gizi balita.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis
Menambah pengetahuan penulis di bidang pengetahuan gizi khususnya konsumsi zat gizi dan status gizi untuk balita.
2. Bagi orang tua
Menambahkan pengetahuan pada orang tua tentang pentingnya konsumsi zat gizi (energi) dan status gizi pada balita.
3. Bagi instansi / pengelola program
Sebagai informasi dalam meningkatkan taraf kesehatan dan gizi masyarakat setempat pada umumnya dan balita pada khususnya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.267

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Kehamilan Pada Remaja di SMAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12-21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun bagi pria. Kehamilan remaja merupakan masalah yang sering terjadi pada remaja saat ini. (Sri Rumini dan Siti Sundari, 2004)
Data Survei Demogrofi dan Kesehatan Indonesia tahun 2010 menunjukkan pada kelompok perempuan usia 15-19 tahun, sebanyak 9% pernah melahirkan bayi dengan 100 orang per 1.000 perempuan. Bandingkan dengan angka di Amerika yang hanya 62 orang per 1.000 perempuan.
Oleh karena itu, mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-30 % kematian wanita subur disebabkan oleh kehamilan, persalinan dan nifas. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil, bersalin dan nifas (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Tingginya angka kehamilan pada remaja di Indonesia saat ini dapat dibuktikan dari data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2006, kehamilan remaja di Indonesia menunjukkan hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 2,3 %; karena sama-sama mau sebanyak 8,5 % dan tidak terduga sebanyak 39%. Seks bebas sendiri mencapai 18,3 %. Pada tahun 2010, hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2%; karena sama-sama mau sebanyak 12,9% dan tidak terduga sebanyak 45%. Seks bebas sendiri mencapai 22,6%. Di Surabaya, Jawa Timur pada tahun 2006 sekitar 26% mengalami hamil di luar nikah. Sedangkan pada tahun 2010, sekitar 37% mengalami hamil di luar nikah. Angka ini meningkat 11% dari tahun 2006.
Dari data SDKI tahun 2007 menunjukkan dari 801 orang remaja yang telah melakukan hubungan seks pranikah, sebanyak 81 orang atau 11% berakhir dengan kehamilan yang tidak diharapkan. Diantara remaja yang hamil tersebut, sekitar 50 orang atau 57,5% mengakhiri kehamilaannya dengan melakukan aborsi. Dalam hal ini perempuan tetap menjadi npihak yang palibng dirugikan karena perempuanlah yang mempertaruhkan nyawanya. (Tukiran, Agus joko Pitoyo, dan pande Made Kutanegara, 2010)
Selain itu, menurut data yang diperoleh dari Media Indonesia, rata-rata terdapat 17% kehamilan yang terjadi per tahun, merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Sebagian dari jumlah tersebut bermuara pada praktik aborsi. Grafik aborsi di Indonesia masuk kategori lumayan tinggi. Pada tahun dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai 2,4 juta jiwa.
Saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 390/100.000 tertinggi di ASEAN menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Dewasa ini masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehamilan pada remaja makin meningkat dan menjadi masalah terutama kehamilan di bawah usia 20 tahun. Kurangnya pengetahuan seks serta adanya istiadat yang merasa malu kawin tua (perawan tua) menyebabkan meningkatnya perkawinan dan kehamilan usia remaja.
Beberapa faktor yang menyebabkan kehamilan pada remaja antara lain hubungan seks di masa subur, renggangnya hubungan antara remaja dengan orang tuanya, rendahnya interaksi di tengah-tengah keluarga, keluarga yang tertutup terhadap informasi seks dan seksualitas, menabukan masalah seks dan seksualitas, kesibukan orang tua. (Surbakti, 2009:135-139).
Solusi yang diambil remaja saat mereka mengalami kehamilan di luar nikah antara lain : menggugurkan kandungannya, mengasuh sendiri anaknya, menitipkan anaknya ke panti asuhan, diadopsi oleh lingkungan keluarga, diadobsi oleh keluarga lain, anaknya dibunuh atau pun bisa dibuang. (Surbakti, 2009)
Dampak dari kehamilan pada usia remaja antara lain abortus yang didukung dengan status ekonomi sebuah keluarga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan si bayi, keadaan emosionalnya, pasangan yang tidak bertanggung jawab. Ada juga kehamilan pada remaja beresiko terjadinya pre-eklampsia, anemia, bayi prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), kematian bayi, kanker pada alat kandungan perempuan, karena rentan pada usia 12-17 tahun perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali, menderita disproporsi sefalo pelvik (karena tulang panggul belum tumbuh sempurna) dan PMS. Selain itu, Kehamilan usia remaja dapat menyebabkan perceraian karena kurang matangnya kedewasaan mereka dalam membina suatu rumah tangga. (Imron, 2006)
Dari sudut kesehatan obstetri hamil pada usia remaja memberi resiko komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan anak seperti : anemia, preeklampsia, eklampsia, abortus. Partus prematurus, kematian perinatal, perdarahan dan tindakan operatif obstetri lebih sering dibandingkan dengan kehamilan pada golongan usia 20 tahun keatas (Soetjiningsih, 2004).
Berdasarkan hasil study pendahuluan yang dilakukan di SMAN 3 yang dilakukan terhadap 9 orang remaja putri kelas II, didapat 5 orang yang tidak tahu adanya dampak dari kehamilan remaja. Remaja khususnya remaja putri yang ada di SMAN 3 kelas II sedang mempelajari alat-alat reproduksi secara umum dan mereka belum pernah mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi khususnya tentang dampak kehamilan remaja. Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dampak kehamilan remaja di SMAN 3 .
Dari data dan masalah yang telah diuraikan diatas, solusi yang dapat mengurangi dan mencegah adanya kehamilan pada remaja adalah dilakukannya pendekatan antara orang tua dan anak remaja mereka khususnya remaja putri, menyarankan kepada orang tua agar tetap mengawasi putra-putri mereka tanpa membatasi aktivitas. Dengan demikian orang tua tetap bisa mengontrol dan mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh putra-putri mereka di luar rumah. Selain itu kita juga perlu memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja putri tentang dampak dari kehamilan remaja, memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada orang tua mereka. (Imron, 2006)

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 ?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 .
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Menganalisa tingkat pengetahuan remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 .
b. Menganalisa sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 .
c. Menganalisa adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 .

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu yang berkait dengan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja putri terhadap kehamilan remaja di SMAN 3 .
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi (Akbid )
Sebagai bahan pertimbangan, masukan, dan informasi yang dipergunakan untuk menambah pengetahuan kesehatan reproduksi seluruh siswa khususnya dalam mencegah kehamilan remaja.
b. Bagi Institusi Yang Diteliti (SMAN 3 )
Sebagai bahan pertimbangan, masukan, dan informasi yang dipergunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi seluruh siswa khususnya dalam mencegah kehamilan remaja.
c. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam menerapkan ilmu kesehatan reproduksi dan meningkatkan kemampuan melakukan penelitian selanjutnya. Selain itu, peneliti dapat menganalisa pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap dampak kehamilan remaja sehingga peneliti dapat mengaplikasikan hasil penelitian yang didapat secara lansung untuk mencegah terjadinya kehamilan pada remaja.
d. Bagi Responden
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman remaja putri siswi kelas II SMAN 3 tentang dampak kehamilan yang sering terjadi dikalangan remaja.

1.5 Keaslian Tulisan
Masngudin HMS (2004), Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja Di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta. Jenis penelitian adalah analitik dengan rancangan penelitian cross sectional secara bivariat antara beberapa variabel yang dianalisis secara statistik dengan menggunakan rumus product moment. Kemudian diperoleh hasil perhitungan r = - 0,6022 dengan taraf significansi 5%, dari sampel 30 adalah 0,36, berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya. (http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm)

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.266

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Pendidikan, Pengetahuan dan Pendapatan Keluarga dg Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di RB


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 10 juta balita meninggal tiap tahun, diperkirakan 2,5 juta meninggal akibat penyakit yang tidak dapat dicegah. Vaksin imunisasi sangat penting untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian. Penyakit infeksi yang datang sebagai pembunuh utama anak – anak yaitu ; campak, poliomielytis, difteri, pertusis (batuk rejam), tetanus dan tuberculosis. Untuk memberantas penyakit ini maka sejak tahun 1997, WHO telah memulai pelaksanaan program imunisasi sebagai upaya global secara resmi yang Expended Program Of Imunitation (EPI) yang dikenal di Indonesia sebagai Program Pengembangan Imunisasi (PPI) (Hadinegoro, 2004)
Sejak penetapan EPI oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia, sekurang – kuranngnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap tahun. Vaksinasi terhadap 7 penyakit telah direkomendasikan EPI sebagai Imunisasi rutin di negara berkembang yaitu : BCG, DPT, POLIO, CAMPAK, dan HEPATITIS B (Ali, 2006)

Departemen Kesehatan RI (2004), menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi di Indonesia dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit cacar di Pulau Jawa. Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar. Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai diperkenalkan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis dan tetanus neonatorum. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan PPI (Depkes RI, 2000)
Status program yang demikian, pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990. Dengan penerapan strategi mobilisasi sosial dan pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama (Depkes RI, 2000)
UCI merupakan indikator penting dalam program imunisasi. Target UCI tahun 2009 adalah >90% artinya target UCI tercapai bila minimal 90% desa/kelurahan dikabupaten/kota telah memenuhi target imunisasi campak sebagai imunisasi rutin terakhir.
Cakupan UCI tahun 2009 Provinsi Sumatera Selatan saat ini adalah 82,5% artinya masih sangat jauh dibanding target 90%. Apalagi tahun 2010 ini target UCI harus 100% sesuai Kepmenkes nomor 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) kabupaten/kota (Dinkes. 2010: 3).
Penelitian Dwi Lestari pada tahun 2007, menunjukkan bahwa tingkat ketepatan jadwal imunisasi dengan kategori baik, ditemukan sebagian besar pada ibu yang berpendidikan formal menengah, berumur antara 20-30 thn, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, dan pada umumnya memiliki 2 orang anak.
Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting karena suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu (Ali ,2002)
Syahrul,Fariani.,(2002) dalam kesimpulan penelitiannya juga mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahun ibu dan keterpaparan informasi dengan status imunisasi,tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi sebagian besar (73,0%) sudah baik. Namun demikian juga masih didapat sebagian kecil (4%) yang tergolong kurang.
Menurut Noor,N.N (2000) menyebutkan berbagai variabel sangat erat hubungannya dengan status sosio ekonomi sehingga merupakan karakteristik. Status sosial ekonomi erat hubungannya dengan pendapatan keluarga (Noor,, 2000)
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Ali, 2002)
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2008, di Indonesia cakupan imunisasi BCG sebesar 86,9%, imunisasi campak sebesar 81,6%, imunisasi Polio sebesar 71%, imunisasi DPT sebesar 67,7%, dan imunisasi Hepatitis B sebesar 62,8%, sedangkan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46,2% (Depkes RI, 2008)
Menurut Survei Demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, dewasa ini angka kematian bayi di Indonesia 34/1000 kelahiran hidup, dan dilaporkan bahwa sekitar 34.690 meninggal setiap tahun karena berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (BKKBN Sumsel, 2007)
Pelaksanan program imunisasi dasar (BCG, DPT, Hepatitis B, Polio, Campak) diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat termasuk usaha swasta baik berbentuk organisasi, yayasan badan usaha maupun perorangan. Unit pelaksana terdepan adalah puskesmas. Data imunisasi tahun 2010 hasil cakupan imunisasi untuk Sumatera Selatan secara nasional 94,9% sedangkan hasil dari Bidan Praktik Swasta Soraya tahun dimulai dari bulan januari sampai bulan mei berjumlah 460 bayi yang diimunisasi.
Berdasarkan penelitian dan data yang diperoleh diatas penulis tertarik untuk meneliti mengenai “Hubungan Antara Pendidikan, Pengetahuan, dan Pendapatan Keluarga dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di Rumah Bersalin Tahun ”.

B. Perumusan Masalah
Rendahnya Angka Cakupan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi 460 orag (4,85%) daru Target yang telah ditetapkan di Rumah Bersalin tahun .

C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana data distribusi frekuensi tentang pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin tahun .
2. Bagaimana data distribusi frekuensi tentang pendidikan ibu dengan status pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin .
3. Bagaimana data distribusi frekuensi tentang pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin .
4. Bagaimana data distribusi frekuensi tentang pendapatan keluarga ibu dengan pemberian imunisasi dasar di Rumah Bersalin .
5. Bagaimana hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin .
6. Bagaimana hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin .
7. Bagaimana hubungan antara pendapatan keluarga ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin .

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Hubungan Antara Pendidikan, Pengetahuan, dan Pendapatan Keluarga Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di Rumah Bersalin .
2. Tujuan Khusus
a. Mendapatkan data distribusi frekuensi tentang pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin tahun .
b. Mendapatkan data distribusi frekuensi tentang pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin tahun .
c. Mendapatkan data distribusi frekuensi tentang pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin tahun .
d. Mendapatkan data distribusi frekuensi tentang pendapatan keluarga ibu dengan pemberian imunisasi di Rumah Bersalin .
e. Mendapatkan data tentang hubungan antara Pendidikan Ibu dengan Pemberian Imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin Tahun ”.
f. Mendapatkan data tentang hubungan antara pengetahuan Ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin Tahun ”.
g. Mendapatkan data tentang hubungan antara pendapatan keluarga Ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di Rumah Bersalin Tahun ”.

E. Manfaat Penelitian
1. Untuk Masyarakat
a. Hasil penelitian ini akan dapat digunakan sebagai masukan dalam meningkatkan upaya pemberian imunisasi dasar pada bayi.
b. Akan memberi masukan penyebab tidak memberikan imunisasi sehingga dapat mengantipasi masalah dan komplikasi yang akan terjadi.
2. Untuk Mahasiswa
a. Akan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian serta sebagai bahan untuk penerapan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah khususnya mata kuliah Metodologi Penelitian.
b. Akan dapat menambah wawasan dibidang Ilmu Kebidanan dalam praktek sehari-hari yaitu menerapkan asuhan kebidanan khususnya terhadap pemberian imunisasi.
3. Bagi Institusi
a. Akan dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi mahasiswa akademi Kebidanan tentang pemberian imunisasi dasar pada bayi anak secara tepat.
b. Akan dapat digunakan seagai dasar bagi peneliti lanjut untuk melakukan penelitian selanjutnya daam hal yang terkait dengan penelitian ini.
c. Akan dapat menambah referensi bacaan diperpustakaan
d. Akan dapat membagi informasi perkembangan ilmu kebidanan khusunya pemberian imunisasi dasar pada bayi.

F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian akan dilakukan pada tanggal Mei – Juli di Rumah Bersalin Tahun .

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.265

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Penambahan Berat Badan Ibu Selama Hamil dengan BBLR Berat Badan Bayi Lahir


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Depkes RI, 2005)
Dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat ditetapkan ada 7 program pembangunan kesehatan. Namun dalam Program-program Pembangunan Nasional (Propenas) tersebut dijadikan enam program pembangunan kesehatan yaitu : Program Lingkungan Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat, Program Upaya Kesehatan, Program Perbaikan Gizi Masyarakat, Program Sumber Daya Kesehatan, Program Obat Makanan dan Bahan Berbahaya, Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan. (Depkes RI, 2003)
Pengelolaan Program Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan untuk memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Adapun program KIA diantaranya : Peningkatan pelayanan antenatal disemua fasilitas pelayanan dengan mutu sesuai standar serta menjangkau seluruh sasaran, Peningkatan pertolongan persalinan ditujukan kepada peningkatan pertolongan oleh tenaga kesehatan kebidanan secara berangsur, Peningkatan deteksi dini resiko tinggi/komplikasi kebidanan baik oleh tenaga kesehatan maupun di masyarakat oleh kader dan dukun bayi serta penanganan dan pengamatannya secara terus menerus, Peningkatan penaganan komplikasi kebidanan secara adekuat dan pengamatan secara terus menerus oleh tenaga kesehatan, Peningkatan pelayanan neonatal dan ibu nifas dengan mutu yang sesuai standard dan menjangkau seluruh sasaran. (Depkes RI, 2003)
Kehamilan dan persalinan seorang wanita adalah hal yang sangat penting dan alamiah, dibutuhkan waktu 9 bulan dalam proses pembentukan janin sampai bayi lahir lengkap dan hanya beberapa jam saja. Bayi dilahirkan secara spontan dengan presentasi kepala pada usia kehamilan antara 37-42 minggu lengkap, setelah persalinan ibu maupun bayi berada pada kondisi baik. (Depkes RI, 2001)
Dari waktu perkembangan kehamilan, ibu mengalami berbagai macam perubahan bentuk maupun ukuran, baik perubahan pada ibu maupun bayi. Perubahan pada ibu diantaranya perubahan berat badan ibu hamil bertambah 6,5 sampai 16,5 kg selama hamil atau terjadi penambahan berat badan sekitar ½ kg/minggu. (Manuaba, 1998)
Adanya penambahan berat badan selama hamil dikarenakan kebutuhan akan zat-zat makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin yang sedang dikandung, untuk memelihara kesehatan ibu serta persiapan untuk menyusui. (Sitorus,1998)
Metode untuk menentukan pernambahan berat badan yang optimal selama masa kehamilan yaitu penting untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (BMI = Body Mass Index) wanita sebelum hamil. Rekomendasi tentang penambahan berat badan total selama hamil ditentukan BMI prakehamilan. Wanita yang hamil harus mencapai batas terendah penambahan berat badan BMInya. Total penambahan berat badan pada kehamilan kembar dua misalnya 16-20 kg. Penambahan berat badan yang dianjurkan pada trimester kedua dan trimester ketiga adalah 0,75 kg/minggu. Asupan kalori ditentukan dengan cara mengalikan berat badan optimal wanita yang tidak hamil dalam kg dengan 35 kkal dan kemudian tambahkan 300 kkal ke jumlah total.(Varney, 2001)
Penambahan berat badan normal menurut Suririnah (2005) dianjurkan penambahan berat badan ibu antara 7,5-20 kg, karena berat badan naik yang berlebihan maka mempunyai resiko terjadinya diabetes gestasional (penambahan kadar gula darah karena adanya proses kehamilan) atau terjadinya preeklamsi (keracunan kehamilan dimana terjadi kenaikan tekanan darah). Demikian pula sebaliknya pada wanita yang penambahan berat badannya kurang, asupan gizi dalam tubuh pun berkurang sehingga akan menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan seperti BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan gangguan kehamilan lainnya.
Dilihat dari angka kejadian BBLR di RB Buah Hati Semarang bulan Januari sampai Desember tahun 2006 ada 16 bayi (5,36%), sedangkan untuk kelahiran bayi normal ada 260 bayi (87,24%). Angka kejadian tersebut ada kaitannya dengan penambahan berat badan selama hamil yang tidak semestinya. Pada 4 bayi BBLR (25%), berat badan lahir kurang 2000 gram dilahirkan oleh ibu dengan penambahan berat badan selama hamil kurang dari 6 kg. Pada 12 bayi BBLR (75%) berat badan lahir kurang 2500 garm dilahirkan oleh ibu dengan penambahan berat badan selama hamil kurang dari 9 kg.
Dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk meneliti adakah hubungan antara penambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan bayi lahir di Rumah Bersalin

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti akan merumuskan masalah sebagai berikut : “Adakah hubungan antara penambahan berat badan ibu salama hamil dengan berat badan bayi lahir di Rumah Bersalin ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara penambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan bayi lahir
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui penambahan berat badan ibu selama hamil
b. Untuk mengetahui berat badan bayi lahir
c. Untuk mengetahui hubungan penambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan bayi lahir

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan asuhan pada ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bisa memberi manfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca serta dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Menambah wawasan, bahan masukan, dan pengetahuan bagi peneliti.
4. Bagi Masyarakat
Dengan mensosialisasikan kepada masyarakat tentang penambahan berat badan selama hamil yang normal, sehingga dapat mengantisipasi terjadinya penambahan berat badan ibu hamil yang tidak normal.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.264

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Pekerjaan dan Paritas dengan Kejadian Ketuban Pecah Sebelum Waktunya pada Ibu Bersalin


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tingkat kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 5-10 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di negara-negara berkembang berkisar antara 750-1000 per 100.000 kelahiran hidup (Wiknjosastro, 2005:23).
Angka kemaian ibu (AKI) di Indonesia tahun 1994 masih tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN yaitu sebesar 390/100.000 Kelahiran hidip, tahun 1995 menurun menjadi 373/100.000 Kekahiran hidup. (SDKI 1995). Sedangkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi baru lahir (AKBBL) di Indonesia saat ini masih tinggi dibandingkn intrnational, hal tersebut dapa dilihat dari hasil Survei Demografi Keshatan Indonesia (SDKI) 2002 & 2003 yang mnunjukkan bahwa AKI di Indonesia sebesar 307/100.000 Kelahiran hidup dan AKBBL sebesar 35/1000 Kelahiran hidup, sementara target AKI untuk Millenim Development Goal (MDG) yang ditetapkan World Organization Health (WHO) sebesar 102/100.000 Kelahiran hidup dan AKBBL sebesar 15/1000 Kelahiran hidup. (www.e-mailpuskom.publik@yahoo.com.id). Berdasarkan laporan data base UNFPA 2005 AKI propinsi Sumatera Selatan sebesar 467/100.000 Kelahiran hidup lebih tinggi dari AKI kota yaiu sebesar 317/100.000 Kelahiran Hidup, sedangkan tahun 2006 AKI di Kota sebanyak 15 orang dengan penyebab yaitu Akreta emboli air ketuban, post SC, kelainan janung dan lain-lain. (subdin,kesehatan keluarga 2006). Menurut data Dinas Kesehatan tahun 2006 tentang data kesehatan propinsi Sum-Sel terdapat AKI 0,46% dari 467 per 100.000 Kelahiran hidup, terbukti dari data kesehatan diatas AKI Sum-Sel lebih tinggi dari AKI Nasional. Penyebab AKI di Sum-Sel tahun 2006 yaitu perdarahan 61,7%, infeksi 23,4%, eklamsih 14,9%, dan lain-lain 10%, sedangkan jumlah kematian ibu yang disebabkan infeksi karena KPSW tercatat 11 orang dari jumlah 47 AKI (23,4%). Pada tahun 2004 tercatat 7 orang dari 60 AKI (11,7%). (Dinkes, 2005).
Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) merupakan penyebab terbesar persalinan prematur. KPSW adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan,dan ditunggu 1 jam dimulainya tanda persalinan. Kejadian KPSW mendekati 10% dari semua persalinan, pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu kejadiannya sekitar 4%. (Manuaba,1998:229). Adapun penyebab KPSW ini belum diketahui secara pasti namun kemungkinan yang menjadi faktor presdisposisi adalah infeksi, kelainan letak janin, faktor golongan darah, faktor multi graviditas/paritas, merokok, perdarahan antepartum,difisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C). (File://E:/P/ketuban pecah dini html). Sedangkan menurut manuaba 1998, penyebab dari KPSW yaitu ketegangan rahim yang berlebihan, kelainan letak janin dalam rahim, kesempitan panggul, kelainan bawaan dari selaput ketuban, dan infeksi. Namun, berdasarkan forum diskusi tentang penyebab KPSW salah satunya dikarenakan kelelahan ibu dalam bekerja. (www.pareting.com.id.@.2008).
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara pekerjaan dan paritas dengan kejadian KPSW pada ibu bersalin yang pernah dirawat di instalasi kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah BARI tahun .

1.2 Rumusan masalah
Apakah ada hubungan antara pekerjaan dan paritas dengan kejadian ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) pada ibu yang pernah dirawat di instalasi kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah tahun ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan dan paritas dengan kejadian ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) pada ibu yang pernah di rawat di instalasi kebidanan Rumah Sakit Daerah .
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Diketahuinya hubungan antara pekerjaan dengan kejadian ketuban pecah sebelum waktunya di Rumah Sakit BARI tahun .
b. Diketahuinya hubungan antara paritas dengan kejadian ketuban pecah sebelum waktunya di Rumah Sakit BARI tahun .

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan dan pengetahuan yang bergerak bagi mahasiswi Akademi Kebidanan .
1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Dengan penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan lebih memperhatikan faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan meningkatnya angka mortalitas dan morbilitas ibu dan bayi terutama tentang KPSW.

1.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini sebagai respondennya adalah ibu hamil dengan KPSW yang pernah dirawat di Rumah Sakit Daerah tahun . Data yang diambil adalah data sekunder yaitu ibu-ibu yang melahirkan selama 1 tahun (Januari – Desember ). Yang mana peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara pekerjaan dan peritas dengan kejadian KPSW di Rumah Sakit Daerah tahun yang dilakukan pada bulan April-Mei .

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.263

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien di RSUD


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka kesakitan yang tinggi. Menurut Adnil Basha (2004: 1) hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka kematian atau mortalitas. Sedangkan menurut Lanny Sustrani, dkk (2004: 12) hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Hipertensi akan memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ seperti otak (stroke), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), otot jantung (left ventricle hypertrophy) (Bustan, 2000: 31). Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer) karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Lanny Sustrani (2004:12). Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan gangguan pembuluh darah otak yang dikenal dengan stroke. Bila tekanan darah semakin tinggi maka harapan hidup semakin turun (Wardoyo, 1996: 26).
Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg tekanan sistolik dan 80 – 90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg. Sedangkan menurut JNC VII 2003 tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas 18 tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan sistoliknya 140 –159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 – 99 mmHg. Diklasifikasikan menderita hipertensi stadium II apabila tekanan sistoliknya lebih 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mmHg sedangakan hipertensi stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari 180 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Lanny Sustrani, 2004: 15).
Prevalensi hipertensi di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 15-20%. Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya pada golongan umur 55-64 tahun. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 1997, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk. Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi, 83 per 1.000 anggota rumah tangga, pada tahun 2000 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi (Departemen Kesehatan RI:2003). Menurut Darmojo Boedhi (1993), bahwa 50% orang yang diketahui hipertensi pada negara berkembang hanya 25% yang mendapat pengobatan, dan 12,5% yang diobati secara baik. Prevalensi hipertensi di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun 1988–1993. Prevalensi hipertensi pada laki-laki dari 134 (13,6%) naik menjadi 165 (16,5%), hipertensi pada perempuan dari 174 (16,0%) naik menjadi 176 (17,6%). Penelitian yang membandingkan hipertensi pada wanita dan pria oleh Sugiri di daerah kota Semarang diperoleh prevalensi hipertensi 7,5% pada pria dan 10,9% pada wanita, sedangkan di daerah kota Jakarta didapatkan prevalensi hipertensi 14,6% pada pria dan 13,7% pada wanita (Arjatmo T, Hendra U, 2001:455).
Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor). Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti keturunan, jenis kelamin, ras dan umur. Sedangkan faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor) yaitu olahraga, makanan (kebiasaan makan garam), alkohol, stres, kelebihan berat badan (obesitas), kehamilan dan penggunaan pil kontrasepsi (Asep Pajario, 2002). Faktor–faktor risiko di atas akan dikendalikan dalam penelitian ini melalui analisis stratifikasi.
Merokok merupakan salah satu kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Pada keadaan merokok pembuluh darah dibeberapa bagian tubuh akan mengalami penyempitan, dalam keadaan ini dibutuhkan tekanan yang lebih tinggi supaya darah dapat mengalir ke alat-alat tubuh dengan jumlah yang tetap. Untuk itu jantung harus memompa darah lebih kuat, sehingga tekanan pada pembuluh darah meningkat (Wardoyo, 1996: 28).
Rokok yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Namun rokok akan mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh di ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit (Mangku Sitepoe, 1997:29). Dengan menghisap sebatang rokok akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh zat-zat yang terkandung dalam asap rokok. Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya beracun, antara lain Karbon Monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok dan dapat menyebabkan pembuluh darah kramp, sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh darah dapat robek (Suparto, 2000:74). Gas CO dapat pula menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran atau penebalan dinding pembuluh darah). Nikotin juga merangsang peningkatan tekanan darah. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (pengumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya dalam asap rokok terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam pembuluh darah), mempermudah pengumpalan darah sehingga dapat merusak pembuluh darah perifer (G.Sianturi, 2003:12).
Dampak rokok akan terasa setelah 10–20 tahun pasca digunakan. Dampak asap rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (Active smoker), tetapi juga bagi perokok pasif (Pasive smoker). Orang yang tidak merokok atau perokok pasif, tetapi terpapar asap rokok akan menghirup 2 kali lipat racun yang dihembuskan oleh perokok aktif (Ruli A. Mustafa, 2005: 3). Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali isapan maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (1 bungkus) per hari akan mengalami 70.000 kali isapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok bersifat kumulatif (ditimbun), suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksis sehingga mulai kelihatan gejala yang ditimbulkannya (Mangku Sitepoe, 1997: 19).
Menurut penelitian di Lombok dan Jakarta memperlihatkan 75% dan 61% pria dewasa (715) dan kurang dari 5% wanita dewasa mempunyai kebiasaan merokok menghabiskan rokok lebih dari 20 batang per hari. Hubungan merokok dengan kesehatan juga dapat dibuktikan oleh SKRT Depkes 1972, 1980, 1986 dan 1992 dimana terlihat jelas peningkatan proporsi kematian akibat penyakit kardiovaskuler yaitu tahun 1972 sebesar 51% tahun 1980 sebesar 9,9%, tahun 1986 sebesar 9.7% dan tahun 1992 sebesar 16,4 % (Aulia Sani:2004) Menurut Departemen Kesehatan melalui pusat promosi kesehatan menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok tertinggi. Berdasarkan data dari WHO tahun 2002 Indonesia menduduki urutan ke 5 terbanyak dalam konsumsi rokok di dunia dan setiap tahunnya mengkonsumsi 2,5 miliar batang rokok. Angka kekerapan merokok di Indonesia yaitu 60%-70% pada laki-laki di perkotaan dan 80% - 90% (Vivi, Juanita, 2003: 1).
Dari hasil Sussenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2001 menyatakan bahwa 54% penduduk laki-laki merupakan perokok dan hanya 1,2% perempuan yang merokok. Menurut Edward D Frohlich, seorang pria dewasa akan mempunyai peluang lebih besar yakni satu diantara lima untuk mengidap hipertensi (Lanny Sustrani, 2004:25).
Berdasarkan data dari dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah daerah kabupaten Blora mengalami kenaikan angka kejadian hipertensi dari tahun 2001 sampai 2004. Dari tahun 2001 yaitu 399 kasus (13,6%), 2002 sebesar 1999 kasus (16,5%), 2003 sebesar 2371 kasus (16,0%) dan tahun 2004 sebesar 5697 kasus (17,0%).Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten tahun hipertensi di BRSD termasuk dalam 10 besar penyakit tidak menular, untuk rawat inap penderita hipertensi sebesar kasus sedangkan untuk rawat jalan penderita hipertensi .. kasus . Dari data yang diperoleh dari bagian rekam medik BRSD pasien hipertensi usia 40 tahun ke atas pada tahun 2007 sebanyak ,tahun 2008 sebanyak pasien dan pada tahun sebanyak .pasien.
Dalam penelitian ini faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas yang akan diteliti adalah kebiasaan merokok yang pada umumnya terdapat pada laki-laki. Pada penelitian ini responden yang di ambil sebagai sampel adalah aki-laki usia 40 tahun ke atas perokok sehingga dapat diperoleh perbedaan yang jelas mengenai perilaku merokok menurut jenis, jumlah, lama, dan cara merokok. Responden yang tidak merokok dan mengalami hipertensi tidak dijadikan sampel, karena kemungkinan hipertensi disebabkan karena faktor lain, sehingga tidak diperoleh indikator perilaku merokok yang dapat menyebabkan hipertensi. Pada penelitian ini diambil untuk pasien rawat jalan karena alasan kesehatan pasien, dimana penderita hipertensi dengan rawat inap tidak dapat mengikuti penelitian untuk pengukuran berat badan dan tinggi badan.
Penelitian ini akan dilaksanakan pada laki-laki yang berusia lebih dari 40 tahun ke atas yang merupakan pasien di BRSD . Badan Rumah Sakit Daerah merupakan rumah sakit kelas C yang terdapat di kecamatan Limboto Kabupaten
Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan kebiasan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah .

B. Rumusan Masalah
1. Permasalahan Umum
Adakah hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah ?
2. Permasalahan Khusus
a. Adakah hubungan jenis rokok yang di hisap dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah ?
b. Adakah hubungan jumlah rokok yang di hisap dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah ?
c. Adakah hubungan cara menghisap rokok dengan kejadian hipertensi pada laki- laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah ?
d. Adakah hubungan lama merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Badan Rumah Sakit Daerah ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Umum Daerah .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan jenis rokok yang di hisap dengan resiko kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Umum Daerah .
b. Untuk mengetahui hubungan jumlah rokok yang di hisap dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Umum Daerah .
c. Untuk mengetahui hubungan cara menghisap rokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Umum Daerah .
d. Untuk mengetahui hubungan lama merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Rumah Sakit Umum Daerah .

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Badan Rumah Sakit Daerah dalam menangani pasien yang menderita hipertensi. Selain itu dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam menyusun kebijaksanaan yang dapat mencegah kejadian hipertensi pada masyarakat sekitar wilayah kerja rumah sakit.
2. Bagi Penelitian
Diharapkan penulis mampu menerapkan disiplin ilmunya di lapangan khususnya dalam materi Epidemiologi penyakit tidak menular.
3. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi dan menambah wawasan mengenai hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki sia 40 tahun ke atas .
4. Bagi Masyarakat
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi masyarakat agar meminimalkan konsumsi merokok untuk menghindari kejadian hipertensi pada laki-laki di usia 40 tahun ke atas.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.262

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Karakteristik dan Sikap Ibu Balita dengan Pemberian Imunisasi Campak di Wilayah


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kebijaksanaan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan pembangunan bidang kesehatan tersebut dapat terwujud, diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Budioro.B, 2001:30).
Sistem kesehatan nasional di dalamnya menyebutkan Puskesmas adalah pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan menyuluh dan terpadu di wilayah kerjanya (Bapelkes, 2000:7).
Dewasa ini dikenal tidak kurang dari dua puluh macam kegiatan pokok (upaya pelayanan kesehatan dasar), tapi pelaksanaanya tergantung pada kemampuan dan sumber daya yang tersedia pada puskesmas yang bersangkutan. Imunisasi termasuk program puskesmas yang bersifat preventif. Imunisasi merupakan suatu teknologi yang sangat dan berhasil dan merupakan sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan oleh para ilmuwan di dunia ini. Satu upaya kesehatan yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya. Setiap tahun lahir 130 juta anak di dunia, 91 juta diantaranya lahir di negara yang sedang berkembang. Pada tahun 1974 cakupan vaksinasi baru mencapai 5 %, sehingga dilaksanakan imunisasi global yang disebut extended program on imunization (EPI) dan saat ini cakupan meningkat hampir setiap tahun minimal tiga juta anak dapat terhindar dari kematian dan sekitar 750.000 terhindar dari cacat. Namun demikian satu dari empat orang anak masih belum mendapatkan vaksinasi dan dua juta meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (I.G.N Ranuh dkk, 2005:4).
Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetatus, Hepatitis B, Polio termasuk juga Campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali. Kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi biasanya dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan imunisasi terakhir yang diberikan pada bayi (Djoko Wiyono, 2000:490).
Target cakupan imunisasi program UCI (Universal Child Imunization) untuk BCG, DPT, Polio, campak dan hepatitis B harus mencapai 80% baik di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten bahkan di setiap desa (I.G.N. Ranuh, dkk, 2005:59).
Berdasarkan survei data awal yang dilaksanakan di Puskesmas yang terletak di Kabupaten Bone Boalngo,
Menurut Lawrence Green dalam Soekidjo Notoatmodjo (2003:96) perilaku dilatarbelakangi oleh tiga faktor yakni: faktor predisposisi (predisposing factor), faktor yang mendukung (enabling faktor), faktor-faktor yang memperkuat dan mendorong (reinforcing factor). Unsur enabling factor terwujud dalam lingkungan fisik, tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana untuk imunisasi yang bisa dijangkau, Sedangkan reinforcing factor meliputi sikap dan perilaku petugas imunisasi.
Faktor perilaku merupakan faktor yang di negara-negara berkembang paling besar pengaruhnya untuk memunculkan masalah kesehatan termasuk imunisasi. Perilaku ibu tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia (pos imunisasi) adalah akibat kurangnya pengetahuan ibu-ibu tentang manfaat imunisasi dan efek sampingnya (A.A. Gde Munijaya, 1999:117).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam dalam suatu tindakan. Terwujudnya sikap menjadi perbuatan nyata atau penerapan diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat mengimunisasikan anaknya (Soekidjo Notoadmodjo, 2003:128).
Sehubungan dengan hal di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang ”Hubungan antara karakteristik dan sikap ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Rumusan masalah umum
Adakah hubungan antara karakteristik dan sikap ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ?
2. Rumusan masalah khusus
a. Adakah hubungan antara pendidikan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ?
b. Adakah hubungan antara pekerjaan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
c. Adakah hubungan antara pendapatan keluarga dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
d. Adakah hubungan antara jumlah anak dalam keluarga dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
e. Adakah hubungan antara jarak rumah dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
f. Adakah hubungan antara pengetahuan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
Adakah hubungan antara sikap ibu Balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.261

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI