KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Hubungan antara Karakteristik dan Sikap Ibu Balita dengan Pemberian Imunisasi Campak di Puskesmas

Minggu, 22 Juli 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kebijaksanaan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan pembangunan bidang kesehatan tersebut dapat terwujud, diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Budioro.B, 2001:30).
Sistem kesehatan nasional di dalamnya menyebutkan Puskesmas adalah pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan menyuluh dan terpadu di wilayah kerjanya (Bapelkes, 2000:7).
Dewasa ini dikenal tidak kurang dari dua puluh macam kegiatan pokok (upaya pelayanan kesehatan dasar), tapi pelaksanaanya tergantung pada kemampuan dan sumber daya yang tersedia pada puskesmas yang bersangkutan. Imunisasi termasuk program puskesmas yang bersifat preventif. Imunisasi merupakan suatu teknologi yang sangat dan berhasil dan merupakan sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan oleh para ilmuwan di dunia ini. Satu upaya kesehatan yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya. Setiap tahun lahir 130 juta anak di dunia, 91 juta diantaranya lahir di negara yang sedang berkembang. Pada tahun 1974 cakupan vaksinasi baru mencapai 5 %, sehingga dilaksanakan imunisasi global yang disebut extended program on imunization (EPI) dan saat ini cakupan meningkat hampir setiap tahun minimal tiga juta anak dapat terhindar dari kematian dan sekitar 750.000 terhindar dari cacat. Namun demikian satu dari empat orang anak masih belum mendapatkan vaksinasi dan dua juta meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (I.G.N Ranuh dkk, 2005:4).
Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetatus, Hepatitis B, Polio termasuk juga Campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali. Kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi biasanya dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan imunisasi terakhir yang diberikan pada bayi (Djoko Wiyono, 2000:490).
Target cakupan imunisasi program UCI (Universal Child Imunization) untuk BCG, DPT, Polio, campak dan hepatitis B harus mencapai 80% baik di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten bahkan di setiap desa (I.G.N. Ranuh, dkk, 2005:59).
Berdasarkan survei data awal yang dilaksanakan di Puskesmas yang terletak di Kabupaten Bone Boalngo,
Menurut Lawrence Green dalam Soekidjo Notoatmodjo (2003:96) perilaku dilatarbelakangi oleh tiga faktor yakni: faktor predisposisi (predisposing factor), faktor yang mendukung (enabling faktor), faktor-faktor yang memperkuat dan mendorong (reinforcing factor). Unsur enabling factor terwujud dalam lingkungan fisik, tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana untuk imunisasi yang bisa dijangkau, Sedangkan reinforcing factor meliputi sikap dan perilaku petugas imunisasi.
Faktor perilaku merupakan faktor yang di negara-negara berkembang paling besar pengaruhnya untuk memunculkan masalah kesehatan termasuk imunisasi. Perilaku ibu tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia (pos imunisasi) adalah akibat kurangnya pengetahuan ibu-ibu tentang manfaat imunisasi dan efek sampingnya (A.A. Gde Munijaya, 1999:117).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam dalam suatu tindakan. Terwujudnya sikap menjadi perbuatan nyata atau penerapan diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat mengimunisasikan anaknya (Soekidjo Notoadmodjo, 2003:128).
Sehubungan dengan hal di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang ”Hubungan antara karakteristik dan sikap ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Rumusan masalah umum
Adakah hubungan antara karakteristik dan sikap ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ?
2. Rumusan masalah khusus
a. Adakah hubungan antara pendidikan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Utara Kabupaten ?
b. Adakah hubungan antara pekerjaan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
c. Adakah hubungan antara pendapatan keluarga dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
d. Adakah hubungan antara jumlah anak dalam keluarga dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
e. Adakah hubungan antara jarak rumah dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
f. Adakah hubungan antara pengetahuan ibu balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?
g. Adakah hubungan antara sikap ibu Balita dengan penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten ?


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.260

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang lebih dikenal dengan masa pubertas. Permulaan masa pubertas yang sering disebut sebagai pematangan fungsi reproduksi, pada perempuan ditandai dengan haid. Remaja putri yang telah memasuki masa pubertas akan mengalami menarche (Manuaba, 2004).
Bahwa di Amerika sekitar 95% anak perempuan mempunyai tanda pubertas pada umur 12 tahun dan umur rata-rata 12,5 tahun. Menarche atau menstruasi pertama merupakan salah satu perubahan pubertas yang pasti dialami setiap anak perempuan (Ganong, 2009).
Bahwa di Indonesia gadis remaja pada waktu Menarche bervariasi antara 10-16 tahun dan rata-rata Menarche 12,5 tahun, usia Menarche lebih dini di daerah perkotaan dari pada yang tinggal di Desa dan juga lebih lambat wanita yang kerja berat (Winkjosastro, 2003).
Usia untuk mencapai fase terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor suku, genetik, sosial, sekonomi, dan lain-lain. Di Inggris usia rata-rata untuk mencapai menarche adalah 13,1 tahun, sedangkan suku Bunding di Papua, Menarche dicapai pada usia 18,8 tahun (Jamaluddin, 2004).
Menarche menjadi hal yang penting bagi seorang wanita dan perlu mendapat perhatian khusus karena hal ini menandai awal kedewasaan biologis seorang wanita (Huffman, 2009).
Anak-anak berusia 12 tahun atau 13 tahun sampai 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya (Maju, 2009).
Menjadi remaja berarti mengalami proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan, lonjakan pertumbuhan badani dan organ reproduksi adalah masalah besar yang mereka hadapi, terutama wanita. Menarche adalah peristiwa paling penting pada remaja putri sebagai pertanda siklus masa subur sudah dimulai (Huffman, 2009).
Dari survey pendahuluan, bahwa di SMPN 3 yang terletak di Kecamatan dengan jumlah keseluruhan siswa-siswi sebanyak 115. Dengan siswi sebanyak 61 (53%), siswa sebanyak 54 (46,9%) dan kalangan pelajar siswi lebih banyak dibandingkan dengan siswa, hal ini belum pernah dilakukan penelitian yang berkaitan dengan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui tentang “Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMPN 3 Tahun ”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMPN 3 Tahun ?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMPN 3 .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche berdasarkan kelas.
c. Untuk mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.
2. Manfaat praktis
Sebagai bahan informasi bagi siswi di SMPN 3 tentang pengetahuan terhadap Menarche.
3. Manfaat bagi peneliti
Menambah pengalaman penulis dalam melakukan penelitian tentang Menarche dan sebagai salah satu dalam menyelesaikan Program Pendidikan D-III Kebidanan di Yayasan Pendidikan Akademi Kebidanan .


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.259

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Perilaku Ibu Hamil Primigravida Trimester III dalam Memeriksakan Kehamilan (ANC)


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal pun mempunyai resiko kehamilan, namun tidak secara langsung meningkatkan resiko kematian ibu (DinKes, 2004).
Didalam kehamilan diperlukan pengawasan atau pemeriksaan secara teratur atau yang lebih dikenal dengan Antenatal Care (ANC). ANC merupakan bagian terpenting dari kehamilan. Dengan memeriksakan secara teratur diharapkan dapat mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang mengandung risiko kehamilan dan atau persalinan, baik bagi ibu maupun janin ( Prawirohardjo S, 2002 ).
Antenatal adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan pekembangan janin dan rahim. Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai hamil secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinannya (Manuaba, 2001).
Pada umumnya kehamilan akan berkembang dangan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan menjadi masalah. Sistem penilaian resiko tidak dapat memprediksi apakah ibu hamil akan bermasalah selama kehamilanya. Oleh karena itu pelayanan / asuhan merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Saifuddin, 2001).
Tujuan pengawasan antenatal ialah menyiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga mental (Prawiro, 2001).
Ditetapkan pula bahwa frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilannya, dengan ketentuan waktu, minimal 1 kali pada trimester I, minimal 1 kali pada trimester II, dan minimal 2 kali pada trimester III. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut ditentukan untuk menjamin mutu pelayanan, khususnya untuk memberi kesempatan yang cukup dalam menangani kasus resiko tinggi yang ditemukan. (Depkes, 2004).
Kunjungan pemeriksaan kehamilan masih kurang, sehingga masih ditemukan ibu hamil yang belum mengetahui pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur.
Kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku. Menurut Lawrence Green, faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya : pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan, dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
Secara teori memang perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru itu mengikuti tahap – tahap, yakni melalui proses perubahan : pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), praktik (practice) atau ”KAP”. Beberapa penelitian telah membuktikan hal itu, namun penelitian lainnya juga membuktikan bahwa proses tersebut tidak selalu seperti teori diatas (K-A-P), bahkan di dalam praktik sehari-hari terjadi sebaliknya. Artinya, seseorang telah berperilaku positif, meskipun pengetahuan dan sikapnya masih negatif (Notoatmodjo, 2003).
Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan tahun 2008, untuk Kabupatan target K1 adalah 95 % dan yang tercapai adalah 89,4 % Sedangkan K4 dengan target 87 % dan pencapaianya adalah 70 %. Dan untuk wilayah kerja Puskesmas Balong Kecamatan balong Kabupaten , target kunjungan K1 adalah 95 % dan tercapai 63,64 %, serta target K4 adalah 87% ,tercapai 74,02%.
Dari studi pendahuluan didapatkan data, dari 10 orang ibu hamil yang melakukan ANC 60 % berpendidikan dasar, 40 % pengetahuan kurang dan 40 % mempunyai sikap terhadap kunjungan ANC kurang.
Setelah kita lihat fenomena diatas kita perlu memberikan pengetahuan kepada ibu hamil primigravida tentang pentingnya pemeriksaan persalinan, agar tahu perkembangan janin dalam kandungan. Ini adalah merupakan gejala yang wajar pada persalinan pertama. Maka dari itu agar persalinannya berjalan dengan lancar disarankan untuk memeriksakan kehamilan (ANC) .
Melihat gambaran diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian “Gambaran Perilaku Ibu Hamil Primigravida dalam memeriksakan kehamilan (ANC) di wilayah Pukesmas balong. Kecamatan balong, Kabupaten .

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:” Bagaimana perilaku ibu primigravida trimester III dalam memeriksakan kehamilan (ANC) di wilayah Pukesmas balong Kecamatan balong, Kabupaten di tahun ?

1.3 Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dalam penelitian ini adalah:
1.3.1 Bagaimana Perilaku Ibu Hamil Primigravida Trimester III dalam memeriksakan kehamilan (ANC) di wilayah Pukesmas balong Kecamatan balong, Kabupaten di tahun ?

1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan ini adalah meneliti tentang Perilaku Ibu Hamil Primigravida Trimester III dalam memeriksakan kehamilan (ANC) di wilayah Pukesmas balong, Kecamatan balong, Kabupaten di tahun .

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan memberikan manfaat bagi :
1.5.1 Instansi penelitian
Diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan terhadap peningkatan pelaksananaan program KIA khususnya Antenatal care (ANC) di Puskesmas Balong.
1.5.2 Ibu Primigravida
Diharapkan ibu primigravida dapat secara rutin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan agar dapat mendapatkan informasi tentang perkembangan kehamilan yang dibutuhkan dalam menghadapi persalinan.
1.5.3 Instansi Pendidikan
Diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan referensi bagi perpustakaan di instusi pendidikan.
1.5.4 Peneliti
Peneliti dapat mengetahui dengan jelas tentang Perilaku Ibu Hamil Primigravida dalam memeriksakan kehamilan (ANC) , sehingga dapat mengetahui wawasan tentang ilmu kebidanan,serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama ini.
1.5.5 Peneliti Lain
Dapat dijadikan pebandingan dan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian ditempat lain yang berkaitan dengan penelitian ini.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.258

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang PAP Smear di Kelurahan Puskesmas


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kanker leher rahim merupakan jenis penyakit kanker yang paling banyak diderita wanita diatas usia 18 tahun. Kanker leher rahim ini menduduki urutan nomor dua penyakit kanker didunia bahkan sekitar 500.000 wanita di seluruh dunia di diagnosa menderita kanker leher rahim dan rata-rata 270.000 meninggal tiap tahun (Depkes RI, 2008).
Diperkirakan pada tahun 2010 kanker leher rahim menjadi penyebab utama mortalitas diseluruh dunia dan pada tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus kanker baru sebanyak 20 hingga 26 juta jiwa dan 13 hingga 17 juta jiwa meninggal akibat kanker leher rahim. Peningkatan angka kejadian kanker diperkirakan sebesar 1% per tahun. Pada tahun 2008 disampaikan dalam world cancer report bahwa terjadi 12 juta jiwa pasien yang baru didiagnosis kanker leher rahim.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sekitar sepertiga kanker dapat disembuhkan jika didiagnosis dan ditangani pada stadium dini, untuk itu perlunya skrining kanker seperti melakukan papsmear untuk mendeteksi kelainan sel-sel pada leher rahim (Nofa, 2003).
Kini pap smear telah dikenal sebagai suatu pemeriksaan yang aman, murah dan telah dipakai bertahun-tahun untuk mendeteksi kelainan sel-sel leher rahim. Semakin dini sel-sel abnormal terdeteksi semakin rendah resiko seseorang menderita kanker leher rahim (Wim De Jong, 2004).
Sekitar 80% kasus kanker leher rahim terjadi pada wanita yang hidup berkembang. Di Indonesia terdapat 90-100 kasus kanker leher rahim per 100.000 penduduk. Kanker leher rahim adalah kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita Indonesia. Setiap wanita tanpa memandang usia dan latar belakang beresiko terkena kanker leher rahim.
Tingginya kasus di negara berkembang ini disebabkan terbatasnya akses screening dan pengobatan. Masih banyak wanita dinegara berkembang, termasuk Indonesia kurang mendapat informasi dan pelayanan terhadap penyakit kanker leher rahim. Ini disebabkan karena tingkat ekonomi rendah dan tingkat pengetahuan wanita yang kurang tentang papsmear (Meutia, 2008).
Kanker leher rahim disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Menurut Bambang (2008) mengatakan kaum lelaki berperan sangat bersar dalam penularan HPV. Laki-laki yang suka berganti-ganti pasangan beresiko besar menularkan virus Papiloma dari pasangannya yang menderita kanker leher rahim ke pasangannya yang baru (Andreas, 2008).
Pada umumnya penderita Ca serviks adalah umur 30-60 tahun tapi sangat rentan terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Saat ini usia remaja juga beresiko terkena kanker leher rahim, ini disebabkan karena ada beberapa atau sebagian remaja mulai atau telah dan pernah berhubungan seksual pada usia dibawah 18 tahun serta sering berganti pasangan, ini akan beresiko tinggi teerkena infeksi virus HPV. Semua wanita yang berusia 18 tahun atau lebih dan telah aktif secara seksual harus melakukan papanicolaou (papsmear). Semakin dini sel-sel abnormal dideteksi semakin rendah resiko wanita menderita kanker leher rahim (Bobak, 2004).
Dari uraian di atas peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap semar di Puskesmas Kec. Kab.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi permasalahan pada penelitian adalah “Bagaimanakah Tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang papsmear di wilayah kerja Puskesmas Kab. ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang pap smear di wilayah kerja Puskesmas Kab. Tahun 2010.
1.3.2 Tujuan Khusus
• Untuk mengetahui pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang pap smear berdasarkan umur.
• Untuk mengetahui pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang paps mear berdasarkan tingkat pendidikan.
• Untuk mengetahui pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang paps mear berdasarkan pekerjaan.
• Untuk mengetahui pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang paps mear berdasarkan sumber informasi.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti.
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam penerapan ilmu yang didapat selama masa pendidikan di Akademi Kebidanan khususnya dalam bidang kesehatan reproduksi wanita tentang papsmear.
2. Bagian Instansi Pendidikan
Menambah bahan bacaan perpustakaan AKBID yang dapat dijadikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan panduan bagi mahasiswa/mahasiswi yang akan melanjutkan penelitian.
3. Bagi Wanita.
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan wanita dibidang kesehatan reproduksi khususnya tentang manfaat pemeriksaan pap smear.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.257

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Mahasiswi Kebidanan Tingkat 3 tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD)


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, karena itu pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan dan awal masa pertumbuhannya. Dengan demikian, maka kesehatan bayi baru lahir kurang dari satu bulan (neonatal) menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah generasi kita yang akan datang dalam keadaan sehat. (Depkes RI, 2004)
Melahirkan merupakan pengalaman menegangkan, akan tetapi sekaligus menggembirakan. Ada satu hal yang selama ini tidak disadari dan tidak dilakukan orang tua dan tenaga medis, tetapi begitu vital bagi kehidupan bayi selanjutnya. Ternyata, dalam satu jam pertama setelah melahirkan, ada perilaku menakjubkan antara bayi dan ibunya. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) berperan dalam pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu membantu mengurangi kemiskinan dan kelaparan dan membantu mengurangi angka kematian anak dengan target menurunkan angka kematian sebanyak 2/3 dari tahun 1990 sampai tahun 2015.
Persiapan menyusui pada masa kehamilan merupakan hal yang penting sebab dengan persiapan yang lebih baik maka ibu lebih siap untuk menyusui bayinya sehingga ibu hamil masuk dalam kelas Bimbingan Persiapan Menyusui (BPM). Demikian pula suatu pusat pelayanan ibu hamil yang dapat menunjang kebijakan yang berkenaan dengan pelayanan ibu hamil yang dapat menunjang keberhasilan menyusui (Soetjiningsih, 1997).
Proses inisiasi menyusu dini dilakukan sesaat setelah bayi lahir dalam keadaan sehat dan menangis, sesudah dipotong tali pusarnya dan dilap dengan kain hangat (dengan tetap mempertahankan vernix). Bayi dibiarkan telanjang dan diletakkan di dada ibu yang juga telanjang dengan posisi tengkurap menghadap kearah ibu. Bayi sengaja dibiarkan mencari sendiri puting susu ibunya. Proses pencarian memakan waktu bervariasi, sekitar 30-40 menit. Dalam hal ini segala tindakan atau prosedur yang membuat bayi stress atau merasa sakit ditunda dulu, seperti menimbang, mengukur dan memandikan bayi dilaksanakan setelah Inisiasi menyusui dini selesai dan dapat dilakukan pada bayi yang dilahirkan dengan cara normal maupun operasi caesar (Roesli, 2008).
Berdasarkan penelitian WHO (2000), dienam negara berkembang resiko kematian bayi antara usia 9 – 12 bulan meningkat 40 % jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia dibawah 2 bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 480 % sekitar 40 % kematian balita terjadi satu bulan pertama kehidupan bayi. Inisiasi menyusu dini (IMD) dapat mengurangi 22 % kematian bayi 28 hari, berarti Inisiasi menyusu dini (IMD) mengurangi kematian balita 8,8 % (Roesli, 2008).
Kematian pada neonatal dini terjadi pada hari pertama (Komalasari, 2003). Penyebab yang mendasari pada 54 % kematian bayi adalah gizi kurang. Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan ada 170 juta anak di dunia mengalami gizi kurang. Sebanyak 3 juta anak diantaranya meninggal tiap tahun akibat kurang gizi karena tidak disusui. (Walujani, 2007).
Dengan menyusui eksklusif selama 6 bulan dapat menghindarkan 1,4 juta kematian balita. Selain itu, dengan memberikan kesempatan kepada bayi baru lahir berada selama 1 jam di dada ibunya untuk mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurunkan kematian bayi baru lahir sebanyak 22 %. (Menkokesra, 2008).
Berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah manfaat dari perilaku menyusu dini, baik bagi ibu maupun bayinya. (Depkes RI, 2008) Manfaat tersebut antara lain menurunkan angka kematian bayi dan menghentikan perdarahan pasca melahirkan dengan lebih cepat mempercepat terlepasnya plasenta dan meningkatkan interaksi antara ibu dan bayi.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2002–2003 hanya 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam pertama kelahirannya, dan hanya 8% bayi diIndonesia yang mendapat ASI Eksklusif enam bulan, sementara target Pemerintah tahun 2010 ingin mencapai ASI Eksklusif sebanyak 80%. Hal ini disebabkan antara lain karena rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari Petugas Kesehatan, persepsi – persepsi sosial budaya yang menentang pemberian ASI, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan pemasaran agresif oleh perusahan – perusahan susu formula yang tidak saja mempengaruhi para ibu namun juga Petugas Kesehatan (Baskoro, 2008).
Di Indonesia telah diadakan program peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) yang merupakan program prioritas. Karena dampaknya yang luas terhadap status gizi dan kesehatan pada bayi dan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain Deklarasi Innocenti (Italia) tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan Air Susu Ibu (ASI). Namun, pencapaian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif hingga saat ini belum menggembirakan. (Sujudi dalam Roesli, 2005) Dari hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia, diketahui bahwa tingkat partisipasi pemberian Air Susu Ibu (ASI) di Indonesia mengalami penurunan dari 42,4 % pada tahun 1997 menjadi 39,5 % pada tahun 2002-2003 (Menkokesra, 2008). Kemudian untuk angka kematian bayi berdasarkan profil kesehatan Jawa Tengah (2008) sebesar 10,48 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2008 terjadi penurunan pada angka kematian bayi yaitu 9,17 per 1000 kelahiran hidup. Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 angka kematian bayi menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup. (Menkokesra, 2008).
Untuk Provinsi Jawa Tengah cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2010 sekitar %, terjadi sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai %. Kemudian untuk daerah Kabupaten , cakupan bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2009 masih rendah, dari jumlah bayi hanya bayi ( %) yang mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Angka ini dirasakan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan target pencapaian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2010 sebesar %. (Profil Kesehatan , 2010)
Peran tenaga kesehatan, khususnya dokter dan bidan sangat berpengaruh terhadap pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara dini. Namun, di Indonesia masih banyak tenaga kesehatan maupun pelayanan kesehatan yang belum mendukung pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara dini (Profil Kesehatan Indonesia, 2005).
Sesuai peran dan fungsi mahasiswa kebidanan sebagai calon bidan khususnya, Mahasiswa Kebidanan Tingkat III harus bisa memahami tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD), menyerap serta berkonsultasi dengan dosen tentang Inisiasi Menyusui Dini, serta membahas keuntungan (ASI) Air Susu Ibu dan dukungan ibu untuk menyusui.
Berdasarkan survei awal pada tanggal di Akademi Kebidanan . , dengan melakukan wawancara kepada 30 orang mahasiswa D-III Akademi Kebidanan Tingkat III yang sedang praktek klinik terdapat 15 orang yang tidak mengetahui tentang Inisiasi Menyusui Dini. Hal ini menujukkan masih kurangnya pengetahuan mahasiswa Kebidanan Tingkat III tentang Inisiasi Menyusui Dini.
Dengan diketahuinya Banyaknya Mahasiswa yang masih belum paham mengenai Inisiasi Menyusui Dini, Berdasarkan latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk menulis Karya Tulis Ilmiah ini tentang “Gambaran Pengetahuan mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan tentang Inisiasi Menyusui Dini”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengetahuan mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan tentang Inisiasi Menyusui Dini.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi pengetahuan mahasiswa tingkat III tentang Inisiasi Menyusui Dini.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik mahasiswa yaitu sumber informasi mengenai Inisiasi Menyusui Dini.
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan mahasiswa tentang pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini yang meliputi

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Akademi Kebidanan
Untuk dijadikan bahan masukan dan memberikan informasi bagi dosen dan mahasiswa tentang Inisiasi Menyusui Dini.
2. Bagi Mahasiswa
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang Inisiasi Menyusui Dini
3. Bagi Peneliti
Sebagai bahan masukan dalam menerapkan metode penelitian yang telah dipelajari.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.256

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan tentang Inisiasi Menyusui Dini


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, karena itu pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan dan awal masa pertumbuhannya. Dengan demikian, maka kesehatan bayi baru lahir kurang dari satu bulan (neonatal) menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah generasi kita yang akan datang dalam keadaan sehat. (Depkes RI, 2004)
Melahirkan merupakan pengalaman menegangkan, akan tetapi sekaligus menggembirakan. Ada satu hal yang selama ini tidak disadari dan tidak dilakukan orang tua dan tenaga medis, tetapi begitu vital bagi kehidupan bayi selanjutnya. Ternyata, dalam satu jam pertama setelah melahirkan, ada perilaku menakjubkan antara bayi dan ibunya. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) berperan dalam pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu membantu mengurangi kemiskinan dan kelaparan dan membantu mengurangi angka kematian anak dengan target menurunkan angka kematian sebanyak 2/3 dari tahun 1990 sampai tahun 2015.
Persiapan menyusui pada masa kehamilan merupakan hal yang penting sebab dengan persiapan yang lebih baik maka ibu lebih siap untuk menyusui bayinya sehingga ibu hamil masuk dalam kelas Bimbingan Persiapan Menyusui (BPM). Demikian pula suatu pusat pelayanan ibu hamil yang dapat menunjang kebijakan yang berkenaan dengan pelayanan ibu hamil yang dapat menunjang keberhasilan menyusui (Soetjiningsih, 1997).
Proses inisiasi menyusu dini dilakukan sesaat setelah bayi lahir dalam keadaan sehat dan menangis, sesudah dipotong tali pusarnya dan dilap dengan kain hangat (dengan tetap mempertahankan vernix). Bayi dibiarkan telanjang dan diletakkan di dada ibu yang juga telanjang dengan posisi tengkurap menghadap kearah ibu. Bayi sengaja dibiarkan mencari sendiri puting susu ibunya. Proses pencarian memakan waktu bervariasi, sekitar 30-40 menit. Dalam hal ini segala tindakan atau prosedur yang membuat bayi stress atau merasa sakit ditunda dulu, seperti menimbang, mengukur dan memandikan bayi dilaksanakan setelah Inisiasi menyusui dini selesai dan dapat dilakukan pada bayi yang dilahirkan dengan cara normal maupun operasi caesar (Roesli, 2008).
Berdasarkan penelitian WHO (2000), dienam negara berkembang resiko kematian bayi antara usia 9 – 12 bulan meningkat 40 % jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia dibawah 2 bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 480 % sekitar 40 % kematian balita terjadi satu bulan pertama kehidupan bayi. Inisiasi menyusu dini (IMD) dapat mengurangi 22 % kematian bayi 28 hari, berarti Inisiasi menyusu dini (IMD) mengurangi kematian balita 8,8 % (Roesli, 2008).
Kematian pada neonatal dini terjadi pada hari pertama (Komalasari, 2003). Penyebab yang mendasari pada 54 % kematian bayi adalah gizi kurang. Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan ada 170 juta anak di dunia mengalami gizi kurang. Sebanyak 3 juta anak diantaranya meninggal tiap tahun akibat kurang gizi karena tidak disusui. (Walujani, 2007).
Dengan menyusui eksklusif selama 6 bulan dapat menghindarkan 1,4 juta kematian balita. Selain itu, dengan memberikan kesempatan kepada bayi baru lahir berada selama 1 jam di dada ibunya untuk mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurunkan kematian bayi baru lahir sebanyak 22 %. (Menkokesra, 2008).
Berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah manfaat dari perilaku menyusu dini, baik bagi ibu maupun bayinya. (Depkes RI, 2008) Manfaat tersebut antara lain menurunkan angka kematian bayi dan menghentikan perdarahan pasca melahirkan dengan lebih cepat mempercepat terlepasnya plasenta dan meningkatkan interaksi antara ibu dan bayi.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2002–2003 hanya 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam pertama kelahirannya, dan hanya 8% bayi diIndonesia yang mendapat ASI Eksklusif enam bulan, sementara target Pemerintah tahun 2010 ingin mencapai ASI Eksklusif sebanyak 80%. Hal ini disebabkan antara lain karena rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari Petugas Kesehatan, persepsi – persepsi sosial budaya yang menentang pemberian ASI, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan pemasaran agresif oleh perusahan – perusahan susu formula yang tidak saja mempengaruhi para ibu namun juga Petugas Kesehatan (Baskoro, 2008).
Di Indonesia telah diadakan program peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) yang merupakan program prioritas. Karena dampaknya yang luas terhadap status gizi dan kesehatan pada bayi dan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain Deklarasi Innocenti (Italia) tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan Air Susu Ibu (ASI). Namun, pencapaian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif hingga saat ini belum menggembirakan. (Sujudi dalam Roesli, 2005) Dari hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia, diketahui bahwa tingkat partisipasi pemberian Air Susu Ibu (ASI) di Indonesia mengalami penurunan dari 42,4 % pada tahun 1997 menjadi 39,5 % pada tahun 2002-2003 (Menkokesra, 2008). Kemudian untuk angka kematian bayi berdasarkan profil kesehatan Jawa Tengah (2008) sebesar 10,48 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2008 terjadi penurunan pada angka kematian bayi yaitu 9,17 per 1000 kelahiran hidup. Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 angka kematian bayi menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup. (Menkokesra, 2008).
Untuk Provinsi Jawa Tengah cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2010 sekitar %, terjadi sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai %. Kemudian untuk daerah Kabupaten , cakupan bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2009 masih rendah, dari jumlah bayi hanya bayi ( %) yang mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Angka ini dirasakan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan target pencapaian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tahun 2010 sebesar %. (Profil Kesehatan , 2010)
Peran tenaga kesehatan, khususnya dokter dan bidan sangat berpengaruh terhadap pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara dini. Namun, di Indonesia masih banyak tenaga kesehatan maupun pelayanan kesehatan yang belum mendukung pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara dini (Profil Kesehatan Indonesia, 2005).
Sesuai peran dan fungsi mahasiswa kebidanan sebagai calon bidan khususnya, Mahasiswa Kebidanan Tingkat III harus bisa memahami tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD), menyerap serta berkonsultasi dengan dosen tentang Inisiasi Menyusui Dini, serta membahas keuntungan (ASI) Air Susu Ibu dan dukungan ibu untuk menyusui.
Berdasarkan survei awal pada tanggal di Akademi Kebidanan, dengan melakukan wawancara kepada 30 orang mahasiswa D-III Akademi Kebidanan Tingkat III yang sedang praktek klinik terdapat 15 orang yang tidak mengetahui tentang Inisiasi Menyusui Dini. Hal ini menujukkan masih kurangnya pengetahuan mahasiswa Kebidanan Tingkat III tentang Inisiasi Menyusui Dini.
Dengan diketahuinya Banyaknya Mahasiswa yang masih belum paham mengenai Inisiasi Menyusui Dini, Berdasarkan latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk menulis Karya Tulis Ilmiah ini tentang “Gambaran Pengetahuan mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan tentang Inisiasi Menyusui Dini”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengetahuan mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan `tentang Inisiasi Menyusui Dini.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi pengetahuan mahasiswa tingkat III .tentang Inisiasi Menyusui Dini.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik mahasiswa yaitu sumber informasi mengenai Inisiasi Menyusui Dini.
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan mahasiswa tentang pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini yang meliputi

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Akademi Kebidanan
Untuk dijadikan bahan masukan dan memberikan informasi bagi dosen dan mahasiswa tentang Inisiasi Menyusui Dini.
2. Bagi Mahasiswa
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang Inisiasi Menyusui Dini
3. Bagi Peneliti
Sebagai bahan masukan dalam menerapkan metode penelitian yang telah dipelajari.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.255

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal di seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan (morbilitas) dan angka kematian (mortalitas) adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan yang efektif pada masyarakat tentang perawatan tali pusat bayi, dalam melaksanakan upaya tersebut diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan untuk memberikan pelayanan yang berkwalitas yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan kepada masyarakat sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat diharapkan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap kesehatan.
Kemampuan hidup sehat dimulai sejak bayi karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang menentukan kwalitas otak pada masa dewasa. Supaya terciptanya bayi yang sehat maka dalam perwawatan tali pusat pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar-benar sesuai dengan prosedur kesehatan.
Perawatan tali pusat adalah melakukan pengobatan dan peningkatan tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik ibu dengan bayi. Dan kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan steril, bersih dan terhindar dari infeksi tali pusat.
Perawatan tali pusat yang baik dan benar akan menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat akan pupus pada hari ke-5 dan hari ke-7 tanpa ada kompilkasi, sedangkan dampak negatif dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami penyakit Tetanus Neonaturum dan dapat mengakibatkan kematian.
Tujuan perawatan tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi baru lahir penyakit ini disebabkan karena masuknya spora kuman tetanus kedalam tubuh melalui tali pusat, baik dari alat steril, pemakaian obat-obatan, bubuk atau daun-daunan yang ditaburkan ke tali pusat sehingga dapat mengakibatkan infeksi (Depkes RI, 2005).
Pada tahun 2000 WHO (Word Hearth Organisation) menemukan angka kematian bayi sebesar 560.000, yang disebabkan oleh infeksi tali pusat, Negara Afrika angka kematian bayi yang disebabkan infeksi tali pusat 126.000 (21%), Negara Asia Tenggara diperkirkan ada 220.000 kematian bayi, di Negara Afrika maupun di Asia Tenggara kematian disebabkan karena perawatan tali pusat yang kurang bersih (Widya Astuti, 2003).
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 angka kematian bayi sebesar 40/1000 kelahiran hidup, angka kematian bayi yang disebabkan infeksi pada tali pusat di rumah sakit besar di Indonesia sebesar 80%.
Data dari propil kesehatan Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2004, angka kematian bayi sekitar 36,7/1000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi di 29/1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian bayi baru lahir tersebut adalah asfiksia (kegagalan bernafas pada bayi), infeksi tali pusat dan hipoterm (penurunan suhu tubuh bayi sampai 36,5 o C) (Profil Sumatera Utara, 2007).
Baik tidaknya pengetahuan tentang kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : Umur, Pendidikan, Paritas karena semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir maka akan makin tinggi keinginannya untuk mengetahui kesehatan dalam dirinya dan juga akan menambah suatu tingkah laku atau kebiasaan yang sehat dalam diri masyarakat (Notoatmodjo, 2002).
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Tali Pusat Pada Baru Lahir di Kelurahan Kota Tahun ”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan tali Pusat Pada Bayi baru lahir di Kelurahan Kota Tahun “.

C. Tujuan Penelitian
C. 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat pada bayi di Kelurahan Kota Tahun .
C. 2. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui gagasan pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat berdasarkan umur.
2. untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat berdasarkan paritas.
3. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat berdasarkan pendidikan.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan menanbah perbendarahaan bacaan bahan bagi mahasiswa/ mahasiswi Akademi Kebidanan Nauli Husada untuk penelitian selanjautnya.
2. Bagi Penulis
Bagi penulis sendiri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan terutama mata kuliah metodologi penelitian.
3. Bagi Lahan / Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi petugas dan masyarakat di Kelurahan tentang seberapa besar pengetahuan mayarakat tersebut terhadap perawatan tali pusat.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.254

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Mengenai Personal Hygiene Terhadap Keputihan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan reproduksi merupakan salah satu topik yang cukup ramai dibicarakan di Indonesia sejak sekitar menjelang awal tahun 2000, antara lain sebagai dampak dari gencarnya penyelenggaraan pertemuan regional dan internasional yang membahas secara lebih cermat masalah-masalah kependudukan dan pembangunan. Masalah reproduksi menyajikan fakta seputar kesehatan reproduksi, baik positif maupun negatif, mendorong berbagai pihak, baik pemerintah, perorangan, swasta maupun lembaga swadaya masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan sekaligus memberikan jalan keluar yang tepat atas masalah kesehatan reproduksi yang terjadi (Bkkbn, 2008:1)
Keputihan merupakan gejala yang sangat sering dialami oleh sebagian besar wanita. Gangguan ini merupakan masalah kedua sesudah gangguan haid. Keputihan seringkali tidak ditangani dengan serius oleh para remaja. Padahal, keputihan bisa jadi indikasi adanya penyakit. Hampir semua perempuan pernah mengalami keputihan. Pada umumnya, orang menganggap keputihan pada wanita sebagai hal yang normal. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada berbagai sebab yang dapat mengakibatkan keputihan. Keputihan yang normal memang merupakan hal yang wajar. Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang harus diobati (Dini Kasdu, 2008:37).
Keputihan merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya biasanya disertai rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar, kerap pila disertai bau busuk , dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu berkemih atau bersenggama (Shadine,2009:1)
Keputihan kerap dianggap sebagai masalah kewanitaan yang biasa-biasa saja dan sering dialami oleh wanita. Jika memerhatikan, keputihan terjadi ketika merasa lelah atau stres. Keputihan dapat dianggap sebagai salah satu alarm tubuh,terutama untuk masalah reproduksi.(Nurchasanah, 2009:121)
Penyebab keputihan yang berlebihan terkait dengan cara kita merawat organ reproduksi. Misalnya, mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut (Diar, 2009).
Perilaku higienis merupakan tema penting yang perlu ditelaah secara mendalam. Hal ini karena berdasarkan kajian teoretis yang ada salah satu upaya mengurangi gangguan pada saat menstruasi yaitu membiasakan diri dengan perilaku higienis. Namun demikian perilaku higienis pada saat menstruasi tidak akan terjadi begitu saja, tetapi merupakan sebuah proses yang dipelajari karena individu mengerti dampak positif atau negatif suatu perilaku yang terkait dengan keadaan menstruasi (Syaifuddin, 2002).
Laporan kesehatan respoduksi wanita yang memeriksakan kesehatanya di sarana kesehatan sangat terbatas, hal ini dapat dikarenakan wanita merasa dapat mengatasi sendiri permasalahan yang dihadapinya. Dari laporan triwulanan dinas Kesehatan kota tentang keputihan patologis diperoleh data sebagai berikut
Tabel 1.1
Laporan Kesehatan Reproduksi tentang Keputihan Patologis
pada Remaja di Beberapa Puskesmas di
Kota tahun 2011
TRiwulan Puskesmas Jumlah Total
I 2
1
2
19 24
II 49
17
1 67
III 6
2
4
29
16
2
3
4 62
IV
16
19
2
50 87
Sumber : Dinkes Kota , 2010
Data mengenai keputihan patologis diatas menunjukkan bahwa keluhan yang dialami telah ditangani oleh petugas kesehatan. Menurut data diatas bahwa Puskesmas Simpang IV Sipin pada triwulan ke IV tahun 2010 paling banyak melayani keluhan keputihan patologis dibandingkan dengan Puskesmas lainya.
Keputihan tak boleh dianggap remeh. Bisa mengakibatkan kemandulan dan kanker. Hampir setiap hari wanita pernah mengalaminya. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita di dunia pasti menderita keputihan paling tidak seumur hidup dan 45% diantaranya bisa mengalaminya sebanyak dua kali atau lebih.(Pribakti, 2008 :37).
Menurut Hurlock (2003) bahwa rentangan usia remaja dibagi dalam masa remaja antara 13 - 21 tahun, yang juga dibagi dalam masa remaja awal, antara 13-14 tahun, menengah usia 17 tahun, dan remaja akhir sampai 21 tahun.
Berdasarkan survey awal pada bulan Oktober 2011 di wilayah Puskesmas Simpang IV Sipin tepatnya di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota diketahui dari 20 siswi ada 17 orang yang menyatakan kurang memahami masalah keputihan dan tidak adanya penyuluhan kesehatan reproduksi mengenai keputihan dari petugas kesehatan. Seluruh siswi bersikap malu-malu jika membicarakan tentang kesehatan reproduksi terutama tentang cara merawat alat reproduksi yang baik, jika ada masalah keputihan mereka enggan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas.
Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kesehatan reproduksi remaja putri khususnya tentang personal hygiene dengan judul ”Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri mengenai Personal Hygiene terhadap Keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam proposal penelitian ini adalah belum diketahuinya gambaran Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang pentingnya personal hygiene terhadap keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011. Sehingga pertanyaan penelitian yang timbul antara lain :
1. Bagaimana gambaran personal hygiene remaja putri di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011?
2. Bagaimana gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011?
3. Bagaimana gambaran sikap remaja putri tentang keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang pentingnya personal hygiene terhadap keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran personal hygiene remaja putri di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011
c. Untuk mengetahui gambaran sikap remaja putri tentang keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Madrasah Aliyah Laboratorium Kota
Sebagai bahan masukan dan informasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada remaja putri tentang keputihan sehingga mereka mengetahui beberapa bahaya keputihan dan bisa secepatnya membawa ke pelayanan terdekat.
2. Bagi Institusi Pendidikan STIKBA Prodi D III kebidanan
Sebagai bahan referensi tambahan di perpustakaan STIKBA Prodi D III kebidanan dan sebagai bahan tambahan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian lebih lanjut dan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk lebih memahami tentang dampak personal hygiene terhadap keputihan.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengalaman bagi peneliti tentang keputihan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keputihan.
4. Bagi Peneliti lain
Dapat dijadikan bahan tambahan dan informasi dalam melakukan penelitian lebih lanjut tentang keputihan dengan variabel penelitian yang berbeda.

E. Ruang lingkup penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskrtftif yaitu mengenai gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang personal hygiene terhadap keputihan di Madrasah Aliyah Laboratorium Kota tahun 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putri yang ada di Madrasah Aliyah Laboratorium. Sampel penelitian diambil secara stratified random sampling yaitu sample yang diambil secara acak sesuai dengan jumlah populasi di masing-masing kelas. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2011. pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner yang berisikan pertanyaan yang terstruktur untuk memudahkan dalam menganalisis data. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariat yaitu cara pengolahan data guna mempermudah penyajian baik dalam bentuk teks, tabel maupun diagram.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.253

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran pengetahuan dan sikap Bidan pada Pemanfaatan Kantong Taksiran Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagai mana dimaksud dalam UUD 1945 melalui pembagunan nasional yang berkesinambungan. (Depkes RI, 2005).
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli serta disusun dalam satu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid. (Depkes RI, 2005).
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2008 tercatat sebesar 228/100.000 ribu kelahiran hidup. Sedangkan target untuk kematian bayi tahun 2009 sebesar 28/1000 kelahiran hidup dari sebelumnya tercatat 32/1000 kelahiran hidup pada tahun 2008 (kompas, 25 maret 2010).
Data IBI (Ikatan Bidan Indonesia) menyebutkan penyebab AKI diantaranya adalah “4 terlalu“ dan “3 terlambat“. Empat terlalu antara lain terlalu muda (usia kurang dari 20 tahun), terlalu tua (usia lebih dari 35 tahun), terlalu sering (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun), atau terlalu banyak (jumlah anak kurang dari 3 tahun lebih dari 2). Sedangkan 3 terlambat antara lain terlambat mengenali tanda bahaya dalam memutuskan dirujuk ke fasilitas kesehatan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Keterlambatan ini biasanya tidak terdeteksi sejak awal karena asuhan antenatal yang tidak teratur, sehingga menyebabkan kemungkinan melahirkan dengan selamat menjadi lebih kecil (Depkes RI, 2004)
Pembangunan kesehatan menitik beratkan pada program-program penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) sebagai salah satu indicator penting dalam kesehatan masyarakat. AKB telah menurun dari 46 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005, dan diproyeksikan terus menurun menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2010. AKB ini sangat penting, karena tingginya AKB menunjukkan rendahnya kualitas perawatan selama masa kehamilan, saat persalinan, masa nifas, status gizi dan penyakit infeksi. (Depkes RI, 2006).
Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu adalah dengan pendekatan pelayanan ibu dan anak di tingkat dasar dan rujukan yang pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “empat pilar safe mother hood” dimana pilar kedua adalah asuhan antenatal yang bertujuan untuk memantau perkembangan kehamilan dan mendeteksi kelainan atau komplikasi yang menyertai kehamilan secara dini dan ditangani secara benar. Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125/100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2004)
Asuhan antenatal penting untuk menjamin agar proses alamiah tetap berjalan normal selama kehamilan. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan serta dapat mengancam jiwanya.Oleh karena itu setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal. Tujuan utama dari asuhan antenatal adalah untuk mempersiapkan ibu dan bayinya dalam keadaan sehat dengan cara membangun hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi tanda bahaya yang mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan kepada ibu (Pusdiknakes, 2002).
Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan kehamilan secara teratur, untuk menjamin mutu pelayanan antenatal perlu indikator untuk menyatakan kunjungan ibu hamil tersebut dinyatakan memenuhi standar yaitu dengan cakupan K4. Cakupan K4 merupakan kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat atau lebih, sesuai jadwal yang ditetapkan (Depkes RI, 2004)
Pada saat ibu memeriksakan kehamilan kunjungan pertama (K1) dan kunjungan selanjutnya (K2, K3, dan K4) bidan tetap melakukan komunikasi terhadap ibu serta masalah yang dihadapi selama masa kehamilan. Beberapa hal dari hasil pemeriksaaan dan tuliskan di catat dikontong taksiran persalinan (Taklin). Seperti: Identitas ibu, Hari Pertama Haid Trakir (HPHT), Taksiran persalinan, riwayat ANC, Faktor resiko pada ibu dan rencana penolong.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti di Wilayah Kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis dari 13 orang bidan yang disurvey, 8 orang bidan yang menggunakan kantong Taksiran Persalinan dan 5 orang bidan yang tidak menggunakan kantong Taksiran Persalinan.
Menurut bidan setempat pada saat survey awal yang dilakukan peneliti terhadap bidan yang tidak menggunakan kantong taksiran persalinan (5 orang bidan), didapat bahwa kebanyakan bidan jarang menggunakan kantong taksiran persalinan dikarenakan ibu hamil pada saat pemeriksaan kehamilannya tidak secara berkala sehingga menyulitkan bidan dalam memantau perkembangan kehamilan ibu tersebut dan bidan hanya mencatat pada buku register atau kohor ibu di saat ibu melakukan kunjungan ulang.
Diharapkan bidan desa atau yang bertugas di ruang KIA dapat melakukan tata tertib administrasi secara keseluruhan dimana bidan tersebut di wajibkan untuk mengisi kantong taksiran persalinan setelah melakukan pemeriksaan ANC. Tujuan dari pengisian kantong taksiran persalinan tersebut untuk mengetahui status kehamilan ibu, mengetahui taksiran persalinan, mengetahui penolong serta pendamping persalinan dan fasilitas tempat persalinan (Depkes RI).
Salah satu peran bidan dalam masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat. Pengawasan antenatal merupakan cara yang mudah untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil secara normal dan dapat mendeteksi dini tanda bahaya kehamilan antara lain: penglihatan kabur, nyeri kepala hebat dan menetap, oedem muka dan ekstremitas, perdarahan pervaginam. Minimnya penyuluhan tentang tanda bahaya kehamilan oleh tenaga kesehatan membuat banyak ibu hamil belum mengerti tentang tanda bahaya kehamilan (Prawirohardjo, 2003)
Pengenalan tentang tanda bahaya kehamilan sedini mungkin akan lebih baik untuk ibu hamil. Selain penyuluhan dari tenaga kesehatan, kepatuhan seorang ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya sangat diperlukan agar setiap keluhan dapat ditangani sedini mungkin sehingga angka kematian ibu dapat ditekan menjadi seminimal mungkin. Efektifitas pelayanan antenatal tidak hanya diukur berdasarkan dari keberhasilan cakupan K4 saja tetapi perlu keteraturan dalam melakukan kunjungan, agar informasi yang penting bagi ibu hamil dapat tersampaikan (Depkes, 2004)
Bertitik tolak dari permasalahan diatas maka peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang Gambaran pengetahuan dan sikap Bidan pada Pemanfaatan Kantong Taksiran Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis Kabupaten Merangin Tahun 2011.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah masih ditemukannya bidan yang tidak menggunakan kantong taksiran persalinan di wilyah kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis Kabupaten Merangin tahun 2011.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Diketahuinya Gambaran Pengetahuan dan Sikap Bidan pada Pemanfaatan Kantong Taksiran Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis Kabupaten Merangin Tahun 2011
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya Gambaran Pengetahuan Bidan pada Pemanfaatan Kantong Taksiran Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis Kabupaten Merangin Tahun 2011.
b. Diketahuinya Gambaran sikap bidan pada pemanfaatan kantong taksiran persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Bangko dan Puskesmas Pematang Kandis Kabupaten Merangin Tahun 2011

D. Manfaat penelitian
1. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya bagi bidan tentang penggunaan kantong taksiran persalinan.
2. Bagi Mahasiswa Akbid Merangin
Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan mahasiswa dan sebagai perbandingan antara fakta yang di temukan di lapangan dengan teori yang dipelajari.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.252

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Peran Keluarga Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Perawatan Lanjut Usia dengan Stroke


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh disertai dengan menurunnya cadangan hampir semua sistem fisiologis proses tersebut disertai dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Pendapat lain mengatakan bahwa menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan–lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan kemampuan untuk memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo;2004).
Terjadinya proses menua disertai dengan berbagai perubahan baik dari fisik dan psikososial. Perubahan fisik dapat dilihat antara lain dari perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan dan kulit. Perubahan lainnya yaitu pada bagian dalam tubuh seperti pada sistem saraf otak, limpa, hati. Perubahan pada panca indera ternyata juga terjadi yaitu pada penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, perubahan pada motorik antara lain berubahnya kekuatan, kecepatan dan belajar ketrampilan baru (Watson,2004). Perubahan secara psikososial lanjut usia antara lain keadaan pensiun dari pekerjaan, kehilangan pekerjaan, kehilangan finansial, kehilangan status, keadaan sadar akan kematian, perubahan cara hidup. Disamping itu lanjut usia juga mengalami penurunan secara ekonomi atau finansial karena pemberhentian dari jabatan sedangkan biaya hidup semakin bertambah dan bertambahnya biaya berobat. Dampak dari perubahan pada lanjut usia cenderung pada bentuk perubahan yang negatif. Penuaan merupakan faktor resiko timbulnya berbagai penyakit antara lain stroke yang merupakan penyakit karena organ tubuh termasuk pembuluh darah otak menjadi rapuh.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke (www.medicastore.com). Insiden stroke mengenai populasi usia lanjut yang berusia 75-84 tahun sekitar 10 kali dari populasi 55-64 tahun. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. Menurut Ketua Tim Stroke RSSA Malang, Eko Arisetijono,jumlah penderita stroke di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang tercatat sebanyak 56 orang pada Januari dan 63 orang pada Februari 2007. Jumlah ini naik lagi pada Mei hingga mencapai 76 orang, sehingga stroke mendominasi penyakit syaraf (Bintariadi,2007).
Stroke yang menyerang lanjut usia menyebabkan ketergantungan lanjut usia makin meningkat. Perubahan yang sering terjadi pada penderita stroke antara lain kelumpuhan, perubahan mental dapat mempengaruhi pikiran dan dampak emosional, hilangnya sensori akibat ketidakmampuan berbicara, kesulitan berjalan, berpakaian, mengendalikan buang air besar dan kecil, mandi, makan, sulit melakukan gerakan sehari-hari, perubahan kepribadian bisa berupa halusinasi dan depresi, khususnya bila hanya berbaring di tempat tidur sehingga kebutuhan ADL (Activity Daily Living) tidak terpenuhi, keadaan seperti ini secara langsung membuat angka ketergantungan terhadap keluarga akan semakin bertambah.
Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lanjut usia untuk memberikan kemudahan dalam pemenuhan ADL (Activity Daily Living) lanjut usia. Keterbatasannya lanjut usia karena stroke juga dapat menyebabkan perubahan psikososial lanjut usia berubah, perlu kesiapan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga agar dapat memberikan pemenuhan kebutuhan perawatan terhadap lanjut usia. Berdasarkan pernyataan di atas maka penulis berkeinginan untuk meneliti hubungan peran keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan perawatan lanjut usia dengan stroke.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana hubungan antara pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dengan pemenuhan kebutuhan perawatan lanjut usia dengan stroke.

1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui pelaksanaan tugas kesehatan keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan perawatan lanjut usia dengan stroke.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi pelaksanaan tugas kesehatan keluarga terhadap lanjut usia dengan stroke.
b. Mengidentifikasi pemenuhan kebutuhan perawatan lanjut usia dengan stroke.
c. Menganalisa hubungan pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dengan pemenuhan kebutuhan perawatan lanjut usia dengan stroke.

1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Manfaat teoritis
Diharapkan dapat memberikan sebuah gambaran pendekatan-pendekatan baru terhadap kemajuan ilmu tentang tugas kesehatan keluarga dan perawatan lanjut usia.

1.4.2 Manfaat praktis
Perawat dapat mengembangkan keperawatan keluarga dan memberikan gambaran baru kepada keluarga tentang pemenuhan kebutuhan perawatan serta pengenalan kebutuhan lanjut usia dengan stroke sehingga diperoleh satu kesatuan antara tercapainya peran keluarga dalam pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dan terpenuhinya kebutuhan perawatan yang diperlukan lanjut usia yang di rawat di dalam kehidupan keluarga.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.251

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI