KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Analisis yang Berhubungan Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja

Minggu, 04 Desember 2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Pembangunan kesehatan pada dasarnya adalah mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal tersebut dibutuhkan peran pemerintah, swasta dan masyarakat.
Derajat kesehatan menurut Blum dalam Notoatmodjo (2007:11) ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu lingkungan (45%), perilaku (30%), pelayanan kesehatan (20%) dan faktor keturunan (5%).
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku kesehatan adalah usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha penyembuhan bilamana sakit (Notoatmodjo, 2007:135-136).
Perilaku hidup sehat menurut Becker dalam Notoatmodjo (2007:137) merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yaitu makan dengan menu seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stres, dan perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
WHO menyebutkan dalam Aditama (2003:24), di negara berkembang jumlah perokoknya 800 juta orang, hampir tiga kali lipat negara maju. Setiap tahun ada 4 juta orang yang meninggal akibat kebiasaan merokok dan tidak kurang dari 700 juta anak-anak terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif. Kalau tidak ada penanganan memadai, maka di tahun 2030 akan ada 10 juta kematian akibat merokok dan sekitar 770 juta anak yang menjadi perokok pasif dalam setiap tahunnya.
Penelitian yang dilakukan di Amerika pada tahun 1998 menyatakan bahwa lebih dari 4 miliar remaja adalah perokok, dimana konsumsi rokok paling banyak adalah murid high school (Siquera, dkk., 2001:2).
Menurut Tandra (2003:3) tingginya kecenderungan merokok di kalangan generasi muda di Indonesia cukup memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada tahun 2001 pada data BPS 2001, sebahagian besar perokok mulai merokok ketika mereka masih anak-anak atau remaja. Sebanyak 58,93% perokok mulai merokok pada usia 15-19 tahun dan 9,46% pada usia 10-14 tahun. Hasil dari penelitian ini yang paling mengkhawatirkan didapatkan usia terendah mulai merokok adalah usia 5 tahun. Usia 15-19 tahun di Indonesia pada umumnya adalah usia siswa SMA.
Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dalam Sirait, dkk. (2001:1) menemukan 27,1% dari 1961 responden pelajar pria SMA/SMK. Sudah mulai atau bahkan terbiasa merokok, umumnya siswa kelas satu menghisap satu sampai empat batang perhari, sementara siswa kelas tiga mengkonsumsi rokok lebih dari sepuluh batang perhari.
Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten ...........
     
1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka masalahnya adalah “Belum diketahuinya analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010”.

1.3     Ruang Lingkup
Perilaku merokok pada remaja pada penelitian ini dibatasi hanya faktor pengetahuan, sikap, peran orang tua dan informasi media. Penelitian ini terdiri dari dua variabel penelitian yaitu variabel bebas (pengetahuan, sikap, peran orang tua dan informasi media) dan variabel terikat (perilaku merokok pada remaja). Subjek penelitian ini adalah seluruh remaja yang ada di SMAN 1 .......... Kabupaten .......... tahun 2010 sebanyak 536 siswa. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara wawancara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional.

1.4     Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahuinya analisis yang berhubungan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2     Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran perilaku merokok di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran pengetahuan remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran sikap remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran peran orang tua remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.5    Diketahuinya gambaran informasi media di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan sikap dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.8    Diketahuinya hubungan peran orang tua dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.
1.4.2.8    Diketahuinya hubungan informasi media dengan perilaku merokok pada remaja di SMAN 1 ..........  Kabupaten .......... tahun 2010.

1.5     Manfaat Penelitian
1.5.1     Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai salah satu dokumentasi di perpustakaan yang ada di institusi pendidikan dalam rangka menambah pengetahuan bagi mahasiswa kebidanan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja sehingga dapat memberikan informasi mengenai bahaya merokok bagi masyarakat secara luas.
1.5.2     Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan menjadi statement point bagi para orang tua untuk lebih meningkatkan pendidikan dan pengawasan pada anak sehingga dapat menyikapi perilaku merokok sebagai perilaku yang akan merugikan kehidupan bagi anaknya di masa yang akan datang.
1.5.3     Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan kajian untuk penelitian yang akan datang dengan metoda dan objek yang berbeda sehingga dapat menghasilan kesimpulan yang lebih akurat.  


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.163

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Analisis Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Gangguan gizi yang terjadi pada balita mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baik pada masa balita maupun masa berikutnya, sehingga perlu mendapatkan perhatian {Supariasa, 2002).
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1457/ MENKES/ SK/X/2003 tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan di sebutkan bahwa pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu dari kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota.
Kegiatan Pemantauan Pertumbuhan Balita dapat dilihat dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) balita, dimana balita yang sehat tiap bulan naik berat badannya. Untuk mengetahui keadaan balita sehat, maka perlu ditimbang setiap bulannya di Posyandu atau tempat pelayanan kesehatan lainnya (Soetjiningsih, 1995)
Tahun 2008 di Jawa Barat, cakupan B/S belum memenuhi target yaitu 78,3% dari target 80% dan tahun 2008 di Indonesia, cakupan D/S 71,0% dari yang ditargetkan 80% (http://www.penimbangan.net).
Di Kabupaten ............. tahun 2007, hasil penimbangan balita dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1.1
Cakupan Penimbangan Balita Per Puskesmas di
Kabupaten ............. Tahun 2007

No    Puskesmas    Jumlah Balita    Ditimbang    D/S    Target
1        3.065    2.078    60.27    80%
2        2.201    1.606    73.45    80%
3        3.292    2.910    88.99    80%
4        4.292    2.847    66.79    80%
5        2.884    2.279    79.56    80%
6        5.129    3.812    73.52    80%
7        3.158    2.908    66.89    80%
8        7.903    6.028    76.79    80%
9        2.866    2.866    62.49    80%
10        1.955    1.427    73.50    80%
11        4.041    3.280    81.72    80%
12        3.388    2.015    59.89    80%
13        3.924    2.793    71.66    80%
14        2.204    1.301    59.42    80%
15        1.081    1.052    58.79    80%
16        5.020    4.671    93.69    80%
17        5.485    3.270    60.03    80%
18        5.428    4.118    76.37    80%
19        4.256    3.294    77.91    80%
20        2.972    2.601    88.11    80%
21        3.076    1.937    63.41    80%
22        4.234    1.230    62.77    80%
23        2.667    1.980    74.70    80%
24        3.804    2.119    55.70    80%
25        2.758    1.933    70.54    80%
26        2.562    1.954    76.78    80%
27        2.368    1.900    80.77    80%
28        5.139    3.542    83.74    80%
29        3.759    3.127    83.74    80%
    Jumlah    105.749    76.409    72.26    80%
(Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2008)

Berdasarkan tabel di atas, cakupan penimbangan balita di Kabupaten ............. belum memenuhi target. Hal ini dapat dilihat dari hasil pencapaian cakupan penimbangan balita sebesar 72.26% dari yang ditargetkan 80%. Dari 29 Puskesmas di ............., UPTD Puskesmas ............. merupakan Puskesmas yang pencapaian cakupan penimbangan balita paling kecil yakni 55.70 dari target 80%.
Sedangkan di UPTD Puskesmas ............. tahun 2007, hasil penimbangan balita dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 1.2
Cakupan Penimbangan Balita Per Desa di Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas .............
No    Puskesmas    Jumlah Balita    Ditimbang    D/S    Target
1        346    195    56.52    80%
2        365    229    60.58    80%
3        380    228    61.95    80%
4        393    197    54.12    80%
5        355    175    49.43    80%
6        344    166    54.07    80%
7        141    89    63.74    80%
8        211    142    65.74    80%
9        104    83    62.40    80%
10        168    101    53.15    80%
11        343    200    57.30    80%
12        201    140    69.03    80%
13        224    165    62.03    80%
    Jumlah     3.804    2.119    55.70    80%
(Sumber : Profil UPTD Puskesmas ............., 2008)
Berdasarkan tabel di atas, cakupan D/S di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. belum memenuhi target. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian cakupan penimbangan balita sebesar 55.70% dari target 80%. Berdasarkan studi pendahuluan, rendahnya cakupan D/S di objek penelitian antara lain disebabkan beberapa factor yaitu masih rendahnya pendidikan ibu, pengetahuan ibu, keaktifan kader, dan penyuluhan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. Tahun 2009”.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.

1.3    Ruang Lingkup Penetitian
Ruang lingkup penelitian ini adatah variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini variahel bebasnya pendidikan ibu, Pengetahuan ibu, keaktifan kader dan penyuluhan tenaga kesehatam. Sedangkan variabel terikatnya cakupan penimbangan batita dan Posyandu. Subjek penelitian ini adalah seluruh balita yang ada di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009 yang berjumlah 66 balita, penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli-September 2009 di UPTD Puskesmas ............. Kabupaten .............. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara melakukan wawancara dan kuesioner. Metode penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan Cross Sectional.

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran cakupan penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran pendidikan tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran pengetahuan tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran keaktifan kader tentang penimbangan balita di Posyandu UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.5    Diketahuinya gambaran penyuluhan tenaga kesehatan di Posyandu UPTD Puskesrnas ............. tahun 2009.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan pendidikan dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.8    Diketahuinya hubungan keaktifan kader dengan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.
1.4.2.9    Diketahuinya hubungan penyuluhan tenaga kesehatan dengan penimbangan balita di Posyandu wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2009.

1.5    Manfaat Penelitian
1.5.1    Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti terutama untuk menambah wawasan dalam hal mengetahui analisa cakupan penimbangan balita di Posyandu serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masih kuliah.
1.5.2    Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi pada perpustakaan Program Studi D III Kebidanan STIKes YPIB ............., serta dapat dikembangkan lebih luas dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3    Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang aoalisa cakupan penimbangan balita di Posyandu, sehingga menjadi pedoman dalam meningkatkan kualitas posyandu serta meningkatkan pemanfaatan posyandu oleh masyarakat yang di dukung oleh kualitas tenaga kesehatan.
1.5.4    Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan informasi untuk meningkatkan cakupan penimbangan balita di Posyandu dalam rangka meningkatkan cakupan penimbangan balita.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.162

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Hepatitis B Terhadap Cakupan Imunisasi Hepatitis B Pertama Pada Bayi 0 – 7 hr


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai upaya pencegahan penularan hepatitis B secara vertikal dari ibu ke bayi maka pemberian imunisasi hepatitis B pertama sedini mungkin yaitu usia 0 – 7 hari (World Health Organizations, 2001).
Negara Indonesia merupakan negara dengan tingkat prevalensi hepatitis B 2,5 % - 25 %. Persentase tersebut diambil dari persentase terendah dan tertinggi yaitu dari populasi umum 5 % - 20 %, kalangan donor darah 2,5 % - 25 %, dan dikalangan wanita hamil 3,6 % - 8,7 % (Depkes RI, 2001).
Imunisasi hepatitis B sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33 % ibu melahirkan di negara berkembang adalah pengidap HBsAg (Hepatitis B serum Antigent) positif dengan perkiraan transmisi maternal 40 % (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 1999).
Pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin menjadi prioritas program imunisasi hepatitis B. hal ini akan memberikan perlindungan segera bagi bayi tersebut dari infeksi yang sudah terjadi (melalui penularan perinatal) berkembang menjadi kronis (Bambang Heryanto, 2002.http://www.litbang.depkes.go.id/data.php).
Imunisasi hepatitis B cukup efektif untuk mencegah penyakit hepatitis B dan juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin ini memberikan daya lindung yang sangat tinggi (> 96 %) terhadap penyakit hepatitis B, sebagaimana telah terbukti pada berbagai percobaan klinis dari jutaan pemakainya. Bila jadwal vaksin telah dijalani selengkapnya, maka daya lindungnya akan bertahan lebih kurang selama 5 tahun, setelah itu dapat diberikan tambahan imunisasi untuk memperpanjang daya lindungnya.
Target Universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan untuk imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B harus mencapai 80 %, baik di tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan disetiap desa. (Satgas Imunisasi-IDAI, 2005). Target imunisasi bayi di Indonesia adalah 4.723.611 dengan hasil cakupan 1.481.050 bayi mendapat imunisasi Hepatitis B, jadi cakupan bayi adalah 31,4 %. (Ditjen. PPM-PL.Depkes Rl, 2006). Target imunisasi bayi di Jawa Barat adalah 883.003 bayi dengan hasil cakupan 221.058 bayi, jadi persentase cakupan bayi adalah 25 % (Dinkes Jawa Barat, 2003).
Jumlah bayi di Kabupaten Garut pada tahun 2008 adalah 35.075 bayi, dengan hasil cakupan hepatitis B 0 – 7 hari sebesar 1.35 1 bayi atau 3,9 %. Di Puskesmas Citeras pada tahun 2008 target imunisasi hepatitis B pertama (0 – 7 hari) adalah 1.349 dan hasil cakupan 838 bayi mendapat imunisasi hepatitis B atau 62,1 %. Sedangkan target cakupan imunisasi di Kabupaten Garut dan Puskesmas Citeras adalah 80 %.
Tabel 1.1 Cakupan Imunisasi Hepatitis B 0 -7 hari per Desa
Di Wilayah Kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008
No    Desa    Target    Cakupan    Persentase
1    Citeras    93    79    84,4
2    Cihaurkuning    151    68    45,0
3    Cibunar    160    81    50,6
4    Sukaratu    115    82    71,3
5    Sukarasa    112    73    65,2
6    Karangmulya    73    65    89,0
7    Lewo baru    90    75    83,3
8    Kutanagara    116    71    61,2
9    Sanding    179    76    42,5
10    Sukajaya    87    55    63,2
11    Bunisari    80    56    70,0
12    Mekarmulya    93    57    61,3
Faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi : 1) Perilaku, merupakan respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya; 2) Sikap, merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup; 3) Pengetahuan adalah penggunaan pikiran dan penalaran logika serta bahasa yang merupakan suatu hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu (Penelitian Muhammad Ali, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2003).
Pengetahuan merupakan suatu hasil yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan sesuatu objek tertentu melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui proses melihat, mendengar selain itu melalui pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan formal dan non formal (Notoatmodjo, 2003). Sehingga pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B dapat mempengaruhi terhadap cakupan imunisasi hepatitis B.
Survey pendahuluan dilakukan pada ibu yang memiliki balita 3 bulan sampai15 bulan sebanyak 20 orang di desa Cibunar pada tanggal 15 April 2009 dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah ibu mengetahui tentang imunisasi hepatitis B ?”. hasilnya adalah 7 ibu mengetahui tentang imunisasi hepatitis B, dan 13 ibu menjawab tidak tahu serta belum begitu paham tentang imunisasi hepatitis B.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap cakupan Imunisasi Hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data hasil cakupan imunisasi hepatitis B yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut serta Puskesmas Citeras penulis menemukan masalah cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari, sehingga menimbulkan pertanyaan “Adakah pengaruh tingkat pengetahuan
ibu tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008”.

C. Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras.
2.    Tujuan Khusus
A.    Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu yang memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan tentang imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras
B.    Untuk mengetahui gambaran cakupan imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras
C.    Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu yang memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan terhadap cakupan imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras

D.    Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis dan menambah pengalaman dalam hal melakukan penelitian serta dapat menerapkan metodologi penelitian
2.    Bagi Tempat yang Diteliti
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Puskesmas Citeras dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari.
3.    Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberi motivasi bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pengetahuan akan imunisasi.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian inimeliputi :
1.    Ruang Lingkup Materi
Pengaruh pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras
2.    Ruang Lingkup Responden
Ibu yang memiliki anak umur 4 bulan sampai 15 bulan di wilayah kerja Puskesmas Citeras.
3.    Ruang Lingkup waktu
Penelitian dimulai dari 1 Mei – 1 Juni 2009
4.    Ruang Lingkup Tempat
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Citeras


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.161

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas

BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Era globalisasi yang mendunia saat ini membuat setiap negara harus bekerja lebih efektif dan efesien untuk meningkatkan nilai saing yang semakin kompetitif. Peningkatan kualitas dan produktifitas kerja menjadi tuntutan dunia bisnis dan industri yang tidak bisa ditunda lagi bila ingin bersaing secara regional maupun global. Tuntutan kultural kerja ini juga menimpa pada organisasi jasa kesehatan. Bekerja dalam bidang kesehatan mempunyai dua fungsi pokok yaitu memproduksi barang  dan atau jasa kesehatan bagi pasien dan mengikat setiap persoalan pada pola interrelasi dengan personel lain untuk kerjasama produktif. (Ilyas, 2002)
        Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Menurut Inguarzo dalam Kadir (2003) mengemukakan bahwa sarana kesehatan ( puskesmas ) belakangan ini mulai menyadari pentingnya memberikan pelayanan berfokus pada harapan dan kepuasan pelanggan.Dikatakan pula bahwa tingkat kepuasan pasien pada puskesmas atau rumah sakit yang sudah dikenal kemungkinan bisa tinggi, walaupun tidak semua persepsinya atau harapannya terpenuhi. Disarankan untuk kondisi seperti ini puskesmas tidak lagi bertujuan hanya untuk mencapai kepuasan yang tinggi tetapi mempertinggi persepsi pasien bahwa puskesmas tersebut adalah centers of excellens. Untuk itu dibutuhkan kemauan puskesmas menemukan harapan pasien, meningkatkan harapan pasien  dengan cara memberikan lebih baik dari yang diharapkan sebelumnya disamping meningkatkan persepsi pasien tentang puskesmas dengan memberikan informasi yang optimal. Namun dikatakan pula meskipun ada hubungan antara persepsi dengan harapan namun ada gap antara persepsi dengan kepuasan terhadap pelayanan di puskesmas ( Kadir, 2003 ).
Menurut Robbins dan Judge (2008) mengemukakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh karakteristik peribadi (sikap, keperibadian, motif, minat, kebutuhan, pengalaman masa lalu dan harapan seseorang), target (kemiripan, latar belakang, ukuran) dan situasi (waktu, keadaan kerja, keadaan sosial).  Sedangkan harapan seseorang menurut Zeithalm dalam kadir (2003) berhubungan dengan komunikasi dari mulut kemulut, kebutuhan individu, pengalaman masa lalu dan komunikasi eksternal.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program kesehatan ibu dan anak maka pihak Puskesmas Paguyaman melakukan berbagai upaya antara lain menempatkan tenaga bidan di desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Paguyaman. Sebelum penempatan tenaga bidan di desa tenaga tersebut telah dilatih dan disiapkan fasilitas seperti peralatan bidan dan sarana polindes yang akan berfungsi sebagai sarana pelayanan bagi ibu hamil. Dengan penempatan tenaga tersebut diharapkan dapat mempermudah bagi ibu hamil untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk memperlancar pelayanan bagi ibu hamil di polindes maupun di poliklinik KIA Puskesmas Paguyaman mereka diberikan biaya operasional untuk pelaksanaan kegiatan program yang dananya ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis kegiatan yang telah direncanakan oleh pihak Dinas Kesehatan Boalemo, selain itu diberikan jasa pelayanan melalui dana gakin dalam bentuk paket yang terdiri atas pemeriksaan antenatal care (ANC), post neonatus care (PNC) dan pertolongan persalinan,  sebesar Rp.250,000 per satu paket. Upaya yang dilakukan oleh pihak puskesmas tersebut diharapkan petugas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi pasien khususnya ibu hamil sehingga tercipta suatu persepsi yang baik pada pelayanan antenatal care dan pada akhirnya target program yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hasil kegiatan program pelayanan antenatal care di Puskesmas Paguyaman seperti terlihat pada grafik 1.
Hasil survey awal yang dilakukan terhadap pasien (ibu hamil) yang berkunjung ke puskesmas induk maupun di polindes, mereka mengeluh terhadap pelayanan yang ada di sarana pelayanan tersebut. Keluhan tersebut antara lain petugas kadang tidak berada di polindes sehingga harus ke Puskesmas Paguyaman yang otomatis mengeluarkan biaya perjalanan dan membutuhkan waktu untuk menuju kesarana tersebut
Grafik 1. Cakupan Program Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
Kabupaten Boalemo Setiap Tahun.
 Faktor lain adalah tenaga bidan kurang respon terhadap keluhan pasien terutama pada saat pasien tidak bisa lagi kesarana pelayanan karena kondisi yang tidak memungkinkan sehingga  harus memanggil bidan ke rumah, fasilitas peralatan yang masih terbatas serta sarana polindes yang masih sederhana dan belum layak digunakan karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Disamping keluhan dari pasien tersebut, para tenaga bidan mengeluh dengan tugas yang diemban sehari-hari dimana mereka mempunyai tugas rangkap untuk memberikan pelayanan pada pasien umum di puskesmas induk dan melayani ibu hamil di pondok bersalin desa (polindes) sehingga ada kejenuhan dalam tugas rangkapnya dan secara tidak langsung akan berpengaruh pada tugas pokoknya sebagai tenaga bidan yang memberikan pelayanan antenatal care (ANC) pada ibu hamil. Dengan adanya keluhan dari pasien khususnya ibu hamil akan memberikan kesan bahwa pelayanan di sarana polindes maupun di puskesmas paguyaman tersebut kurang baik atau tidak memuaskan sehingga mempengaruhi jumlah kunjungan ibu hamil pada hari berikutnya karena mereka menganggap bahwa apa yang diharapkan menyangkut pelayanan ibu hamil tidak sesuai dengan yang ada di Puskesmas Paguyaman
        Berdasarkan data dan permasalahan di atas maka, peneliti ingin meneliti tentang ” Studi tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010”.

B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan kenyataan diatas maka dikemukakan permasalahan yakni “ bagaimana Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010“. 

C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, dapat dikemukakan tujuan penelitian sebagai berikut  :
1. Tujuan Umum
        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
2. Tujuan Khusus 
a. Untuk mengetahui kebutuhan individu pada pelayanan  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
.b. Untuk mengetahui pengalaman ibu hamil pada  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
c. Untuk mengetahui harapan ibu hamil pada  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian
    1.  Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan  terutama berkaitan dengan persepsi ibu hamail pada pelayanan antenatal care (ANC) , bagi peneliti berikutnya dimasa yang akan datang.
     2. Manfaat bagi praktisi
                        Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi   Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo dalam penentuan arah kebijakan pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
3. Manfaat Bagi Peneliti 
                Merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam rangka     memperluas wawasan keilmuan dan mencoba melakukan kajian tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care  di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.160

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Perbedaan Tingkat Efektifitas Perawatan Luka Dengan Tehnik Dan Terbuka Terhadap Penyembuhan Luka Tali Pusat Bayi Baru Lahir

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

    Persalinan adalah proses dimana seorang ibu melahirkan bayinya. Pada saat bayi baru lahir terjadi proses adaptasi dengan dunia luar yang jauh berbeda dengan keadaan dalam rahim sehingga terjadi perubahan (Jumiarni, 1994). Akibat perubahan lingkungan dari uterus ke luar uterus, maka bayi baru lahir menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanis dan termis. Hasil dari rangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan metabolisme, pernafasan, sirkulasi dan lain-lain (Wiknjosastro H, 2002). Disamping itu bayi dituntut melakukan metabolisme dan melaksanakan segala sistem tubuhnya sendiri seperti bernafas, mencerna, eliminasi dan lain – lain yang semula tergantung pada ibunya.
    Periode lain adalah terjadinya infeksi terutama pada tali pusat yang merupakan luka basah dan dapat menjadi pintu masuknya kuman tetanus yang sangat sering menjadi penyebab kematian bayi baru lahir (Jumiarni, 1994). Sebelum terjadi penutupan anatomik yang sempurna pembuluh darah tali pusat merupakan tempat masuknya kuman yang paling baik, sehingga bayi mudah menderita infeksi                (Markum A.H, 1995). Untuk itu perlu dilakukan perawatan tali pusat. Perawatan tali pusat dapat menggunakan tehnik tertutup atau dengan menggunakan tehnik terbuka. Sampai saat ini di rumah sakit banyak yang menggunakan tehnik perawatan tertutup yaitu membersihkan tali pusat dengan alkohol 70 %, luka dikompres kasa alkohol 70 % kemudian ditutup dengan kassa steril (Cristine, 1993). Dan mulai tahun 2002, sejak adanya pelatihan APN  mulai dikembangkan tehnik perawatan terbuka dengan membersihkan tali pusat sampai kering kemudian pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutup dengan sehelai kassa steril (PPKC, 2002). Kejadian dilapangan dengan tehnik tersebut proses penyembuhan dan lepasnya tali pusat berbeda-beda, pelepasan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama dengan rentang 2 sampai 45 hari (Cuningham, 1995). Namum sampai saat ini belum ketahui tehnik yang paling efektif terhadap penyembuhan luka tali pusat.
    Perawatan tali pusat yang kurang baik dan salah dapat mempengaruhi lamanya proses pengeringan dan lamanya waktu lepas serta dapat menyebabkan infeksi  sehingga hal ini tidak efektif terhadap penyembuhan tali pusat (Cuningham, 1995). Tanda lain yang perlu diwaspadai pada tali pusat akibat perawatan yang kurang baik adalah adanya tanda kemerahan, bengkak, keluar cairan, bau busuk dan berdarah (PPKC,2002). Di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso bayi baru lahir baik melalui persalinan fisiologis ataupun yang pathologis untuk perawatan luka tali pusatnya ada yang menggunakan  tehnik tertutup mengacu pada protap  yang ada yaitu dengan kompres basah kasssa alkohol 70%, sedangkan sebagian lagi ada yang  menggunakan tehnik terbuka tanpa memberikan sesuatu apapun pada tampuk tali pusat dan  kemudian dibiarkan terbuka tanpa tutup (mengacu pada Buku acuan Asuhan Persalinan Normal, 2002).  
    Walaupun belum ditemukan kejadian infeksi tali pusat selama dirawat di rumah sakit, sampai saat ini dilaporkan rata – rata penyembuhan luka tali pusat terjadi beberapa hari setelah perawatan dirumah dengan rentang waktu yang bervariatif. Rata – rata tenaga keperawatan yang bertugas di Perinatologi belum mengetahui tingkat efektifitas dari kedua perawatan yang dilakukan pada tali pusat bayi baru lahir . Dan sampai saat ini belum ada penelitian tentang perawatan ini. Menurut, Cunningham (1995) menyatakan tali pusat mengering lebih cepat dan lepas lebih awal kalau terbuka, dan karena itu pembalutan tak dianjurkan. Pusat Pengembangan  Keperawatan Carolus (2002) menuliskan dalam makalah  Pelatihan Managemen Asuhan Kebidanan, bahwa perawatan tali pusat dengan tehnik terbuka lebih baik karena tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang sedikit. Manfaat lain dari perawatan terbuka tentu akan lebih sedikit bahan dan alat habis pakai yang akan digunakan perawat  yang bertugas, sehingga  akan menekan biaya yang dikeluarkan rumah sakit. Sedang perawatan tali pusat tehnik tertutup didasarkan pada kajian literatur yang menyatakan bahwa dengan tehnik tertutup akan mencegah terjadinya kontaminasi dengan dunia luar dan melindungi luka tali pusat dari gesekan, walaupun secara ekonomi akan lebih banyak bahan dan alat yang diperlukan.
    Adanya berbagai tehnik perawatan tali pusat dan beragamnya alat dan bahan habis pakai yang digunakan khususnya di ruang perawatan perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso, dan belum diketahuinya tingkat efektifitas perawatan tali pusat yang dilakukan terhadap proses penyembuhan, peneliti mencoba melakukan penelitian tentang efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso. Diharapkan dengan penelitian ini dapat ditemukan tehnik perawatan tali pusat yang efektif terhadap proses penyembuhan luka tali pusat dan juga efesien dari biaya yang dikeluarkan rumah sakit, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit khususnya di Ruang Perinatologi.

1.2.    Rumusan Masalah
Bagaimanakah perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup (dengan kassa alkohol 70 %) dan terbuka (dengan tanpa memberikan apapun pada tampuk tali pusat) terhadap penyembuhan luka tali pusat bayi baru lahir.

1.3.    Tujuan Penelitian
1.3.1.    Tujuan umum
    Mengidentifikasi tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
1.3.2.    Tujuan khusus
1.    Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
2.    Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
3.    Mengidentifikasi perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.

1.4.    Manfaat Penelitian
1.4.1.    Teoritis
Dengan diketahuinya tehnik perawatan tertutup dan terbuka serta tingkat efektifitasnya dalam penyembuhan luka tali pusat memberikan masukan pada penelitian keperawatan  dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
1.4.2.    Praktis
Tehnik perawatan yang efektif dapat digunakan sebagai tehnik alternative dalam perawatan tali pusat bayi baru lahir sebagai tindakan yang cukup efektif dan effesien.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.159

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Perbedaan Pengaruh Tindakan Suction ETT yang Dilakukan Selama 5 Detik dan 10 Detik Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Di Ruang ICU RSUD


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan akhir pernafasan adalah mempertahankan konsentrasi oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen dalam cairan tubuh. Sumbatan jalan nafas karena benda asing sangat berbahaya dan harus segera dibersihkan. Karena apabila tidak dapat bernafas, maka kita tidak dapat memberikan pernafasan buatan. Indikasi pemasangan ETT (Endotracheal Tube) termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan gangguan non obstruksi yang mengubah ventilasi. Tindakan pemasangan ETT sering dilakukan di unit perawatan intensif untuk penderita yang refleks laringnya terganggu atau mengalami gagal nafas akut. ETT  harus sering dibersihkan dari sekret dengan cara dihisap karena jika tidak dibersihkan, sekret akan tertahan di jalan nafas sehingga sirkulasi oksigen ke jaringan tidak maksimal, hal ini mengakibatkan saturasi oksigen kurang dari normal sehingga dapat terjadi hipoksemia, yang penting diingat adalah setiap kita melakukan penghisapan sekret bukan sekretnya saja yang dihisap tapi oksigen di paru juga dihisap dan alveoli juga bisa kolaps (Nazaruddin, 2004)
Trauma akibat intubasi bisa disebabkan karena trauma langsung saat pemasangan ataupun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama sehingga menjadi nekrosis. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi pada kira-kira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat pemasangan trakeostomi. Trauma intubasi paling sering menyebabkan sikatrik kronik dengan stenosis, juga dapat menimbulkan fistula trakeoesofageal, erosi trakea oleh pipa trakeostomi, fistula trakea-arteri inominata, dan ruptur bronkial. Jumlah pasien yang mengalami trauma laringeal akibat intubasi sebenarnya masih belum jelas, namun sebuah studi prospektif oleh Kambic dan Radsel melaporkan kira-kira 0.1 %. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di ruang perawatan ICU (Intensive Care Unit) Sentral RSUD Jombang pada bulan Januari sampai Desember 2008 terdapat 50 pasien yang memakai ETT. Peneliti menemukan penderita yang memakai ETT   pada bulan November – Desember 2008 sebanyak 8 pasien. Dari data tersebut didapatkan fakta setelah selesai dilakukan penghisapan sekret ETT terdapat 5 orang yang mengalami penurunan saturasi oksigen, padahal seharusnya jika sekret ETT telah dihisap maka airway menjadi lebih lancar, sehingga sirkulasi, ventilasi, perfusi dan transport gas pernafasan ke jaringan lebih baik.
Sumbatan jalan nafas dapat total dan partial. Sumbatan jalan nafas total bila tidak dikoreksi dalam waktu 5 sampai 10 detik dapat mengakibatkan hipoksia, henti nafas dan henti jantung. Berdasar ini kita harus segera mulai memberikan penanganan awal karena lebih banyak korban meninggal disebabkan kekurangan oksigen daripada kelebihan oksigen. Oleh karena hipoksemia dapat mematikan dalam waktu 3-5 menit. Sedangkan oksigen toxicity baru menyebabkan kerusakan jaringan paru jika pemberian okisigen 100% yang terus menerus selama 12 jam atau lebih. Sebelum suction, pasien harus diberi oksigen yang adekuat (pre oksigenasi) sebab oksigen akan menurun selama proses pengisapan pada pasien- pasien yang oksigennya sudah kurang. Pre oksigen ini dapat menghindari hipoksemia yang berat dengan segala akibatnya, sebab proses suction dapat menimbulkan hipoksemia. Keadekuatan sirkulasi, ventilasi, perfusi dan transport gas pernafasan ke jaringan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya perilaku. Faktor yang paling berpengaruh adalah perilaku perawat saat melaksanakan prosedur penghisapan sekret ETT, jika prosedur tidak sesuai dapat mengakibatkan sekret tidak bisa keluar sehingga dapat mengakibatkan hipoksia karena oksigenasi ke jaringan tidak adekuat akibat defisiensi penghantaran oksigen atau penggunaan oksigen di seluler dengan tanda dan gejala gelisah, penurunan tingkat kesadaran, peningkatan tekanan darah, frekuensi nadi dan sianosis, jika tidak ditangani akan mengakibatkan kematian padahal gejala awal terjadinya hipoksia dapat dilihat dari penurunan saturasi oksigen (FK Unair, 2002).
Upaya yang dapat dilakukan oleh perawat adalah melakukan tindakan suction ETT sesuai standar prosedur serta melakukan fisioterapi nafas pada pasien, dan tidak kalah pentingnya pemantauan terhadap peralatan yang digunakan apakah konsentrasi oksigen yang digunakan sesuai, serta deteksi dini adanya kebocoran pipa ETT. Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik meneliti pengaruh tindakan suction 5 detik dengan 10 detik  terhadap perubahan saturasi oksigen. Karena pengetahuan tersebut dapat dijadikan masukan untuk para perawat ketika melakukan tindakan suction  pada pasien.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Adakah perbedaan pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen di Ruang ICU  RSUD Jombang.

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen di Ruang ICU  RSUD Jombang.
1.3.2    Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.
b.    Mengidentifikasi pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.
c.    Menganalisis perbedaan pengaruh antara tindakan suction yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
Mengembangkan ilmu keperawatan dalam perawatan pasien kritis dalam upaya promotif dan preventif dengan diketahuinya pengaruh tindakan suction selama 5 detik dengan tindakan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen yang digunakan sebagai dasar dalam penelitian ilmu keperawatan.
1.4.2 Praktis
Pengetahuan akan pengaruh dari tindakan suction selama 5 detik dengan tindakan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen dapat digunakan sebagai panduan intervensi yang bermutu dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.158

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Perbedaan Fungsi Paru Pasien PPOK Yang Menggunakan Terapi Nebulizer Dengan Terapi Intravena di Ruang RSUD


BAB     1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Terapi nebulizer merupakan bagian dari fisioterapi paru-paru (chest physiotherapy). Tepatnya, cara pengobatan dengan memberi obat dalam bentuk uap secara langsung pada alat pernapasan menuju paru-paru. Sejak ditemukannya nebulizer pada tahun 1859 di Perancis, nebulizer merupakan pilihan terbaik pada kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah inflamasi atau obstruksi bronkus pada penderita asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis). Sebagai bronkodilator terapi inhalasi memberikan onset yang lebih cepat dibandingkan obat oral maupun intravena (Winariani, 2002).

Menurut Dr Suradi, penyakit PPOK di Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai penyakit yang menyebabkan kematian. Sementara data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, pada tahun 2010 diperkirakan penyakit ini akan menempati urutan ke-4 sebagai penyebab kematian. Pada dekade mandatang akan meningkat ke peringkat ketiga dan menyerang sekitar 10% penduduk usia 40 tahun ke atas. Kondisi ini tanpa disadari, angka kematian akibat PPOK ini makin meningkat. Pengobatan terhadap penyakit ini tidak akan bisa menyembuhkan 100 persen. Sedangkan pengobatan berupa suportif paliatif hanya untuk memperbaiki hidup. Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bronkodilator dalam bentuk inhalasi lebih efektif disbanding bronkodilator dalam bentuk parenteral terutama pada PPOK ekserbasi akut dalam serangan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada pasien di ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang selama bulan September-November 2008 tercatat dari 53 pasien yang menderita PPOK yang mendapat terapi melalui inhalasi rata-rata 2 sampai 3 kali kondisinya membaik Indikasi terapi nebulizer untuk memberikan medikasi secara langsung pada saluran napas untuk mengobati: bronchospasme akut, produksi mukus yang berlebihan, batuk dan sesak napas, epiglotitis, sedangkan di ruangan Paviliun Cempaka indikasi dilakukan terapi “nebulizer” adalah bila saat dilakukan pemeriksaan fisik terdengar suara wheezing pada kedua lapang paru.

Terapi ini lebih efektif, kerjanya lebih cepat pada organ targetnya, serta membutuhkan dosis obat yang lebih kecil, sehingga efek sampingnya ke organ lainpun lebih sedikit. Sebanyak 20-30% obat akan masuk di saluran napas dan paru-paru, sedangkan 2-5% mungkin akan mengendap di mulut dan tenggorokan. Pemberian obat dalam bentuk inhalasi ini ditujukan untuk memberikan efek efek lokal yang maksimal di paru dan memberikan efek samping yang seminimal mungkin. Adapun saluran nafas yang dimaksud adalah mulai dari saluran nafas atas, trachea, bronkus, bronkiolus hingga alveoli. Reseptor yang menerima efek bronkodilator dari adenoreseptor terdapat di bawah laring dan tersebar merata sepanjang saluran nafas konduksi. Tujuan pemberian terapi nebulizer adalah dapat diberikan langsung pada tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg rendah dapat menurunkan absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat melalui nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute lainnya seperti subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer telah lembab, yang dapat membantu mengeluarkan sekresi bronchus (Winariani, 2002).
Untuk penatalaksanaan penderita PPOK perlu dilakukan penilaian awal yang teliti mengenai tingkat perjalanan penyakit, lamanya gejala, adanya gangguan faal obstruksi jalan nafas dan derajat obstruksi. Penatalaksanaan selalu mencakup suatu pengobatan yang terarah  dan rasional, bukan semata-mata pengobatan medika mentosa. Prinsip pengobatan terdiri dari usaha pencegahan, mobilisasi dahak yang lancar, memberantas infeksi yang ada, mengatasi obstruksi jalan nafas, mengatasi hipoksemia pada keadaan dengan gangguan faal yang berat, fisioterapi dan rehabilitasi dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang lama hidup. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka  RSUD Jombang.

1.2. Rumusan masalah.
1.2.1 Pertanyaan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapat dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana fungsi paru pasien PPOK sebelum dilakukan terapi nebulizer dan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang ?
2.    Bagaimana perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang dilakukan terapi nebulizer dengan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang?
3.    Adakah pengaruh terapi nebulizer terhadap fungsi paru pada pasien PPOK di ruang Paviliun Cempaka  RSUD Jombang?

1. 3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan terapi intravena di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang.
1.3.2 Tujuan khusus
1.    Mengidentifikasi terapi nebulizer dan intravena pada pasien PPOK di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang.
2.    Mengidentifikasi fungsi paru pasien PPOK di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang
3.    Menganalisa perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan intravena  di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang

1.4  Manfaat Penelitian
1.   Bagi penulis
Mengetahui pengaruh terapi inhalasi terhadap fungsi paru, sehingga dapat dijadikan sebagai literatur untuk terapi PPOK
2.   Bagi penulis lain
Sebagai bahan masukan untuk penelitihan lebih lanjut
3.   Bagi rumah sakit
Sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer pada pasien PPOK.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.157

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Perbedaan Antara Berat Badan Bayi Umur 0-6 Bulan yang Diberi ASI Tanpa Susu Formula dg Diberi Susu Formula Tanpa ASI

BAB I
PENDAHULUAN

I.1     Latar Belakang

        Menyusui merupakan hal yang umum terjadi pada semua budaya dan selalu di lakukan karena kelangsungan hidup bayi tergantung pada ASI. Oleh karena itu menyusui juga merupakan suatu alamiah yang universal, yang menjamin kelangsungan hidup dan kesehatan anak. Namun karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pemberian ASI, diet yang terbatas dan lingkungan yang kurang sehat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian anak.
        Di negara berkembang, menyusui merupakan senjata terampuh untuk melindungi bayi dari incaran maut. Semua penderita yang, meninggal karena kekurangan gizi diperkirakan 1 juta kasus yang terjadi setiap tahunnya, Menurut laporan dari Demografic and health survey WHO di indonesia tahun 1998 bayi yang mendapat ASI sebanyak 65%,tahun 1999 menurun menjadi 50%.
        Pengetahuan merupakan hasil dari tahun dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2003- 121)
        ASI Esklusif adalah Bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan,tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula ,jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (Eny Retna Ambarawati& Diah Wulandari 2008, Asuhan Kebidanan. NIFAS).
        Hasil rekomendasi WHO dan UNICEF pada pertemuan tahun 1979 di geneva tentang makanan bayi dan anak antara lain berisi : menyusui merupakan bagian terpadu proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologis yang di butuhkan untuk pertumbuhan.Memberikan susu formula dengan dalih apapun pada bayi lahir harus di hindarkan (Prawirohardjo, 2002).
        Pertumbuhan bayi menyusui secara murni adalah dengan tercukupnya zat gizi yang terkandung dalam ASI sehingga dapat menjamin pertumbuhan normal.Keunggulan ASI lebih unggul di bandingkan susu buatan karena ASI  mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan bayi susu buatan menyebabkan alergi karena mengandung bahan yang bisa menyebabkan diare kronik.Faktor yang bisa mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI esklusif antara lain usia, pendidikan, lingkungan, intelegasi dan pekerjaan.
Pada saat ini program dinas kesehatan kota Surabaya menargetkan tercapainya pemberian ASI esklusif tahun 2010 sebesar 70 % dan untuk tahun 2011 sebesar 90%. Kenyatannya target yang mampu di capai pada tahun 2009 hanya sebesar kurang lebih 40%. Berdasarkan data yang diperoleh, di BPS Hj. Sri Wahyuni, Amd, Keb,121 jumlah kelahiran bayi yang diberi ASI,yang mendapat ASI esklusif hanya 20 bayi ( 16,5% ).

I.2  Identifikasi Masalah
            Penelitian ini dilakukan di BPS Hj.Sri Wahyuni, Amd, Keb. Terletak di Jl. Melirang Bungah Gresik. BPS ini melayani KB, ANC, INC,PNC dan imunisasi. Mayoritas pasien yang berkunjung di BPS ini adalah pendatang.(Bekerja sebagai pabrik 90 % dan menjadi pegawai negeri 10%)
            Sosial masyarakatnya hampir 100% beragama islam. Ditinjau dari segi perekonomian, masyarakat yang bekerja sebagai pabrik dapat dikatakan golongan ekonomi menengah kebawah, sehingga dapat berpengaruh terhadap tinggkat pendidikan juga pengetahuan. Berdasarkan survey awal bulan agustus observasi di BPS Hj. Sri Wahyuni, Amd, Keb pada 10 orang (100%) BAYI didapatkan kejadian banyak bayi yang berumur 0-6 bulan sebagian besar tidak minum ASI melainkan diberi susu formula sebanyak 5 orang (30%). Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

I.3      Pembatasan dan Rumusan masalah

        “Apakah ada perbedaan antara berat badan bayi umur 0-6 bulan yang diberi ASI tanpa susu formula dengan diberi susu formula tanpa ASI” di BPS Hj.Sri Wahyuni Amd.Keb, Gresik.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.156

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Pemberian Konseling Ibu Hamil Tentang Proses Persalinan Terhadap Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan


    Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap yang dilakukan secara sistematik dengan paduan keterampilan komunikasi interpersonal, teknik, bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau upaya untuk mengatasi masalah tersebut. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal Dan Neonatal, 2002:39)
    Serangkaian kegiatan paling pokok bimbingan dalam usaha memberi konseling/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan/masalah khusus (Andi Mapiere,1994)
2.1.2    Tujuan Konseling
2.1.2.1. Membantu penderita untuk memahami peristiwa kehamilan, persalinan, nifas dan resiko yang mungkin dihadapi sehingga dapat dilakukan upaya preventif terhadap hal-hal yang tidak diinginkan
2.1.2.2.  Membantu penderita dan keluarganya menentukan asuhan kehamilan, pertolongan persalinan yang bersih dan aman atau tindakan klinik yang mungkin diperlukan.
2.1.2.3. Membantu klien untuk mengenali gejala/tanda-tanda tentang akan terjadinya suatu resiko reproduksi dan fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai/mampu untuk menanggulangi berbagai resiko/komplikasi yang terjadi.
2.1.3    Ciri Konselor Yang Efektif
    Kemampuan untuk melaksanakan komunikasi positif secara efektif merupakan syarat bagi seorang konselor. Ciri konselor yang efektif adalah :
2.1.3.1. Mampu menciptakan suasana nyaman dan aman bagi klien.
2.1.3.2.  Menimbulkan rasa saling percaya diantara klien dan konselor.
2.1.3.3.  Mampu mengenali hambatan sosio kultural setempat.
2.1.3.4. Mampu menyampaikan informasi obyektif, lengkap dan jelas (bahasa yang mudah dimengerti).
2.1.3.5. Mau mendengar aktif dan bertanya secara efektif dan sopan.
2.1.3.6. Memahami dan mampu menjelaskan berbagai aspek kesehatan reproduksi.
2.1.3.7. Mampu mengenali keinginan klien dan keterbatasan penolong.
2.1.3.8. Membuat klien bertanya, berbicara dan mengeluarkan pendapat. 
2.1.3.9. Menghormati hak klien, membantu dan memperhatikan.
2.1.4 Pengertian Komunikasi.
    Adalah suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku secara keseluruhan baik secara langsung dengan lisan maupun tidak langsung melalui media ( Harwani, 2002 : 6).
    Dari aspek pengungkapan dan pertukaran informasi, komunikasi digolongkan menjadi 2 bentuk, yaitu :
2.1.4.1. Komunikasi Verbal
a. Pertukaran informasi terjadi secara interaktif mendengarkan lawan bicara atau      sebaliknya.
b. Kontak mata sangat membantu kelancaran komunikasi.
c. Pengamatan bahasa dan gaya bicara.
d. Berlangsung dua arah atau timbal balik.
e. Pemahaman dan penyerapan informasi berlangsung relatif cepat dan baik.
2.1.4.2. Komunikasi Non-Verbal
a. Melalui observasi dari gerak-gerik, ekspresi  gerak tubuh dan isyarat.
b. Sulit untuk menyelami maksud dan perasaan klien
c. Sering terjadi salah persepsi.
d. Konselor lebih banyak mengambil inisiatif.
e. Komunikasi terganggu apabila kedua belah pihak tidak mengupayakan komunikasi verbal.
Walaupun petugas pelayanan kesehatan (konselor) belum mengikuti pelatihan keterampilan konseling, bukan berarti proses ini tidak dapat dilakukan karena masalah penting di dalam konseling, selain teknik komunikasi dan pemberian informasi, juga isi dari informasi yang akan disampiakan. Seharusnya semua petugas dan staf klinik dapat mengerti tentang pengetahuan dan tindakan klinik dalam kesehatan maternal dan berbagai resiko/komplikasi yang mungkin timbul. 
    Pada dasarnya, konseling merupakan bentuk kepedulian petugas kesehatan masalah dan upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
2.1.5    Langkah-Langkah Dalam Memberikan Konseling
    Gallen dan Leitenmaier (1987) memberikan akronim yang dapat dijadikan panduan bagi konselor untuk melakukan konseling. Akronim tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari :
G – Greet
         Memberi salam, mengenalkan diri dan membuka komunikasi.
A- Ask/Asses
Menanyakan keluhan/kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan/keinginan yang disampaikan memang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
T- Tell
Beritahu bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh pasien adalah seperti yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus dicarikan upaya penyelesaian masalah tersebut. 
H- Help
Bantu klien untuk memahami masalah itu yang harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat menyelesaikan masalah tersebut termasuk dampak dari masalah tersebut.
E- Explain
Jelaskan bahwa alternatif yang diberikan dan hasil yang diharapkan mungkin dapat segera terlihat atau diobservasi beberapa saat hingga menampakkan hasil seperti yang diharapkan. Jelaskan pula siapa dan dimana pertolongan lanjutan atau darurat dapat diperoleh.
R- Refer dan     Return Visit
Rujuk apabila di fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai atau buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan terpilih telah diberikan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.155

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar bagi negara-negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 20-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Menurut data statistik yang dikeluarkan WHO sebagai badan PBB yang menangani masalah bidang kesehatan, tercatat angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515.000 jiwa setiap tahun  (WHO, 2008).
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyatakan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup, sebagai angka tertinggi di ASEAN. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab yang kompleks, yaitu sosial, budaya, ekonomi, tingkat pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan gender, dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus. Hal ini menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas pemerintah.
Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang unik dan penuh misteri bagi setiap pasangan suami istri. Setiap kehamilan diharapkan dapat berakhir aman dan sejahtera baik bagi Ibu maupun bagi janinnya, oleh karena itu pelayanan kesehatan maternal yang bermutu sangatlah penting dan semua perempuan diharapkan dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan tersebut.
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Prawirohardjo, 2005).
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida dan 40-60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. Hiperemesis gravidarum yang yang tidak mendapatkan penanganan yang baik dapat pula menyebabkan kematian pada ibu hamil (Prawihardjo, 2005).
Di RSIA Sritina terdapat 145 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya selama bulan Januari – April 2009 dan 30 diantaranya mengalami hiperemesis gravidarum. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Karakteristik Ibu Hamil yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2009.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaiman mengetahui Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2008.

C.    Tujuan Penelitian
a.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2008.
b.    Tujuan Khusus
1)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan gravida.
2)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina berdasarkan pendidikan.
3)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil yang mengalmi hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan usia kehamilan.
4)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina berdasarkan riwayat kehamilan.
5)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan penyakit ibu.

D.    Manfaat Penelitian
a.    Bagi penulis
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman belajar khususnya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum.
b.    Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana kepustakaan dan menambah informasi mahasiswa dalam melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada kehamilan.
c.    Bagi tempat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi pegawai/bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya ibu hamil.

E.    Ruang Lingkup Penelitian
Karya tulis ini memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengambil data tentang hiperemesis gravidarum dan akan dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina tahun 2008. Data yang diambil adalah semua data ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum tahun 2008.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.154

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI