KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Hubungan Pengembangan Desa Siaga dengan Peningkatan Motivasi Masyarakat Desa dalam Melaksanakan PHBS

Minggu, 22 Juli 2012


BAB 1
PENDAHUUAN

1.1. Latar Belakang
Desa siaga adalah sebuah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri. (KEPMENKES NO. 564/MENKES/SK/VIII/2006). Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (PKD/Poskesdes). Salah satu bentuk pembinaannya yaitu menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap tatanan dalm masyarakat.
Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau factor keturunan, tetapi perlu memperhatikan factor perilaku secara teoritis memiliki andil 30-35% terhadap derajat kesehatan.
Masalah kesehatan terus berkembang, penyakit baru bermunculan dan persebarannya cenderung menjadi ancaman global seperti SARS, HIV-AIDS, dan Flu Burung. Sedangkan penyakit lainnya yang akut dan berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti Demam Berdarah, Polio, dan Diare serta Gizi Buruk pada balita. Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur-unsur mortalitas dan yang mempengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah Angka Harapan Hidup Lahir. Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati tiga indicator, yaitu Angka Kematian Bayi per-1.000 kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita per-1000 Kelahiran Hidup, dan Angka Kematian Ibu Maternal per-1.00.000 Kelahiran Hidup. Untuk morbiditas disepakati beberapa indicator, yaitu Angka Kesakitan Malaria per-1.000 penduduk, Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+, Prevalensi HIV (Persentase Kasus terhadap Penduduk Beresiko), Angka Acute Paralysis (AFP) pada Anak Usia <15 tahun per-100.000 Anak, Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100.000 Penduduk. Data UNDP tahun 2001 mencatat bahwa indeks Pembanguna Manusia (Human Development Indexs). Di Indonesia masih menempati urutan ke 102 dari 162 negara. Menkes menambahkan, masalah kesehatan yang dihadapi dewasa ini adalah perbedaan status kesehatan antar daerah yang masih tinggi, rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin, beban ganda penyakit, masih rendahnya kualitas, kuantitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat yang kurang mendukung (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) PHBS. Sementara itu masalah kesehatan masyarakat seperti TBC, Kusta dan Penyakit infeksi lainnya belum sepenuhnya dapat diatasi. Kondisi ini diperberat oleh menurunnya status kesehatan akibat gizi buruk, khususnya pada kelompok rentan. Pada sisi lain terdapat beberapa wilayah tertimpa bencana alam, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tetapi juga menyisakan trauma dan maslah kesehatan. Salah satu indikator keberhasilannya adalah perilaku hidup bersih dan sehat yang didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat .( Ir. Dunanty RK Sianipar,MPH:2006). Pengembangan Desa Siaga penting untuk dilakasanakan karena Desa Siaga merupakan basis bagi Indonesia sehat 2010. Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan pendekatan penggerakan dan pengorganisasian masyarakat agar kelestariannya lebih terjamin. Untuk keberhasilan pengembangan Desa Siaga, puskesmas dan jaringannya, rumah sakit dan Dinkes Kabupaten / Kota perlu direvitalisasi. Berbagai pihak yang bertangung jawab untuk pengembangan Desa Siaga (stakeholders) diharapkan dapat berperan optimal sesuai tugasnya, agar pengembangan Desa Siaga berhasil. Dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 telah ditetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Pembangunan Sumber Daya Kesehatan, yang merupakan bagian dari Pembangunan Kesehatan (SDK). Tercantum dalam Bab 28. Sasaran yang dicapai Pembangunan Kesehatan adalah: • Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun • Menurunnya angka kematian bayi 45 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup • Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup. • Menurunnya prevalensi gizi kurang anak balita dari 25,8% menjadi 20 % Dengan telah ditetapkannya sasaran tersebut, maka Departemen Kesehatan merumuskan Visi Departemen Kesehatan dalam rangka mencapai Visi Indonesia Sehat, yang saat ini ditengarai dengan indikator-indikator sebagaimana tersebut diatas. Adapun Visi Departemen Kesehatan adalah ”Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup Sehat” dengan Misi ”Membuat Masyarakat Sehat”, yang akan dicapai melalui strategi: 1) Menggerakkan dan membudayakan masyarakat hidup sehat 2) Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas 3) Meningkatnya sistem surveilans, monitoring, dan informasi kesehatan 4) Meningkatkan pembiayaan kesehatan Berkaitan dengan strategi tersebut, salah satu sasaran terpenting yang ingin dicapai adalah ”Pada Akhir Tahun 2008, Seluruh Desa Telah Menjadi Desa Siaga”. Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong. Pengembangan Desa Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, menyiap siagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah efektifitas pengembangan Desa Siaga yang sudah dilakukan? 2. Adakah peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat? 3. Adakah hubungan pengembangan Desa Siaga dengan peningkatan motivasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum ”Diketahuinya hubungan pengembangan desa siaga dengan peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.” 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi efektifitas pengembangan desa siaga. 2. Mengidentifikasi peningkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 3. Mengidentifikasi hubungan pengembangan desa siaga dengan penigkatan motivasi masyarakat desa dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Profesi Keperawatan Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan dalam pengembangan desa siaga. 1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan Untuk memberikan gambaran, arahan, acuan bagi pengelola program PHBS, sehingga dapat saling mengisi dan saling bekerjasama dalam melaksanakan program pembangunan kesehatan. 1.4.2 Bagi Warga Masyarakat Desa Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.297

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI