KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil

Minggu, 04 Desember 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan mendorong tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil dari kehidupan bangsa. Kemandirian keluarga dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan, dan keamanan keluarga akan menentukan secara berantai kehidupan bangsa secara nasional. Semakin diterima konsep pelayanan kesehatan modern, angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal akan semakin dikendalikan (Manuaba, 2007).
Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, diselenggarakan upaya pelayanan kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemilihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Sulistyo, 2011).
Berhasilnya upaya kesehatan tersebut dapat dilhat dari tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat yang dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH). UHH dipengaruhi oleh Angka Kematian Bayi, (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKABA) dan Angka Kematian Kasar (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2004).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan baromater pelayanan kesehatan ibu dan anak di suatu negara, AKI dan AKB di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN.  Berdasarkan Biro Pusat Statistik (BPS) AKI di Indonesia tahun 2007 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002 sebesar 307 per 100.000, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 (102 per 100.000 kelahiran hidup). Sementara untuk Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 26,9 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah jauh menurun dibandingkan tahun 2002-2003 sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup. Adapun target AKB pada MDG’s sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Berdasarkan BPS Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. AKI di Jawa Barat sebesar 250 per 100.000 kelahiran dan AKB sebesar 40,26 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2007).
AKI dan AKB di Kabupaten ........... tahun 2011, AKI sebesar 199,46 per 100.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 9 kasus, infeksi 2 kasus, dan lain-lain 20 kasus. Sedangkan AKB sebesar 19,28 per 1.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah bayi berat lahir rendah (BBLR) 92 kasus, asfiksia 43 kasus, kelainan konginetal 24 kasus, infeksi 20 kasus, pneumonia 15 kasus, aspirasi 10 kasus, diare 1 kasus dan lain-lain 50 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten ..........., 2011). Melihat penyebab kematian baik pada ibu maupun bayi, hal ini sesungguhnya dapat dicegah dan diatasi dengan penanganan pada saat hamil, salah satunya dengan pemeriksaan antenatal yang memenuhi standar.
Menurut Manuaba (2011) pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik kehamilan, untuk menghadapi persalinan. Dengan pengawasan hamil dapat diketahui berbagai komplikasi ibu yang dapat memengaruhi kehamilan atau komplikasi hamil sehingga segera dapat diatasi. Keadaan yang tidak dapat dirujuk ke tempat yang lebih lengkap peralatannya sehingga mendapat perawatan yang optimal.
Mual dan muntah merupakan salah satu gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stress yang dikaitkan dengan kehamilan.  Selama masa kehamilan sebanyak 90% wanita mengalami beberapa bentuk mual dan muntah yang dapat berkisar dari gejala mual ringan yang khas sampai sedang yang dapat sembuh dengan sendirinya dengan atau tanpa disertai muntah, sampai kondisi berat, yaitu hiperemesis gravidarum (Denise, 2008).
Selanjutnya Denise (2008) mengemukakan pula sekitar 51,4% wanita mengalami mual dan 9,2% wanita mengalami muntah. Keadaan hiperemesis gravidarum yang sangat patologis jauh lebih jarang terjadi dibandingkan mual dan muntah secara logis, diperkirakan hiperemesis gravidarum yang sangat patologis terjadi dalam 1 per 500 kehamilan.
Mual dan muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endoktrin yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tinginya fluktuasi kadar hCG (human chorionic gonadotrophin), khususnya karena periode mual dan muntah gestasional yang paling umum adalah pada usia 12-16 minggu pertama, yang pada saat itu, hCG mencapai kadar tertingginya (Denise, 2008).
Menurut Manuaba (2008) mual dan muntah merupakan mata rantai panjang yang dikendalikan oleh keseimbangan antara dopamin, serotonin, histamin dan asetilkolin. Menurunnya serotonin dalam darah dapat meningkatkan terjadinya mual dan muntah. Kejadian hiperemesis gravidarum berlangsung sejak usia kehamilan 9-10 minggu. Kejadian ini makin berkurang dan selanjutnya diharapkan berakhir pada usia kehamilan 12-14 minggu. Sebagian kecil berlanjut sampai usia kehamilan 20-24 minggu.
Berdasarkan data di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... tahun 2011 jumlah seluruh ibu hamil 217 dan yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 53 (24,42%) ibu hamil. Angka tersebut menunjukkan kejadian hiperemesis gravidarum di UPTD Puskesmas ........... cukup banyak/tinggi dan perlu mendapat perhatian secara serius karena hiperemesis gravidarum dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin.
Dari paparan yang telah diuraikan peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... tahun 2011”.

1.2     Rumusan Masalah  
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ........... tahun 2011.

1.3     Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil dari faktor umur, paritas, dan pekerjaan. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas ........... dengan subjek yaitu seluruh ibu hamil yang dirawat di UPTD Puskesmas ............ Jenis penelitian observasional menggunakan data sekunder dengan pendekatan potong lintang (cross sectional).

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ........... Tahun 2011.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran umur ibu di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran paritas di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran pekerjaan di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya hubungan umur ibu hamil dengan kejadian hiperemesis gravidarum di  Puskesmas ........... tahun 2011.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan paritas dengan kejadian hiperemesis gravidarum di  Puskesmas ........... tahun 2011.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan pekerjaan dengan kejadian hiperemesis gravidarum di tahun 2011.

1.5     Manfaat Penelitian
1.5.1    Bagi penulis
    Memperoleh wawasan pengetahuan atau keterampilan dalam menerapkan manajemen asuhan kebidanan khususnya pada hiperemesis gravidarum sehingga penulis dapat ikut berperan aktif melakukan upaya-upaya pencegahan maupun penanggulangan masalah tersebut.
1.5.2    Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan melaksanakan penelitian. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai bahan referensi di perpustakaan agar dapat memudahkan mahasiswa pada khususnya untuk mencari pengetahuan khususnya tentang hiperemesis gravidarum.
1.5.3    Bagi Instansi
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan rujukan bagi instansi terkait untuk membuat perencanaan dalam pencegahan dan penanganan kejadian hiperemesis gravidarum.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.171
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI